RENUNGAN HARIAN - Jumat, 16 Januari 2026 : Hakim-hakim 6:12

 

RENUNGAN-HARIAN-Jumat-16-Januari-2026-Hakim-hakim-6-12

Jumat, 16 Januari 2026

Hakim-hakim 6:12

Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, demikian: “TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.”

Menjadi Pahlawan

Soekarno, Muhamad Hatta, Abdurrahman Wahid, atau Sisingamangaraja, Cut Nyak Dien, Pattimura, dan masih banyak lagi, kita kenal sebagai pahlawan nasional. Gelar tersebut diberikan kepada warga negara Indonesia yang berjuang melawan penjajah atau memberikan prestasi luar biasa bagi kemajuan bangsa. Mereka adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Ada yang dengan gagah berani angkat senjata melawan kekuasaan penjajah, ada yang dengan kepintarannya berdiplomasi berdebat dengan penjajah, dan sebagainya. Kontribusi mereka beragam namun mempunyai kesamaan, yaitu memperjuangkan kebenaran dan keadilan bagi bangsa yang dijajah untuk mendapatkan kemerdekaan. Meskipun taruhannya besar, yakni hidup mereka, namun itu tidak menghalangi mereka untuk tetap memperjuangkan kebenaran bagi bangsanya.

Israel kembali berbuat jahat di mata Tuhan, meninggalkan-Nya untuk menyembah dewa-dewa Kanaan seperti Baal dan Asera. Tuhan kemudian menghukum mereka atas ketidaksetiaan tersebut, dengan menyerahkan mereka ke tangan orang Midian, Amalek, dan bangsa-bangsa timur selama tujuh tahun. Mereka merampas hasil panen dan ternak Israel, membuat mereka sengsara dan terpaksa bersembunyi. Dalam penderitaan, Israel memohon kepada Tuhan. Tuhan mengutus seorang nabi untuk mengingatkan mereka akan kasih setia-Nya, lalu memanggil seorang pemuda bernama Gideon. Seperti kebanyakan orang Israel, ia bersembunyi karena ketakutan terhadap orang Midian. Disinilah Malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Gideon dan memberikan suatu kepastian: Tuhan menyertai engkau. Inilah yang menjadi dasar keberanian Gideon dalam melaksanakan panggilannya untuk membebaskan Israel. Ini menunjukkan bahwa Tuhan menghendaki Gideon untuk hidup dalam keberanian, bukan ketakutan, menjadi alat bagi Tuhan untuk membebaskan yang tertindas. Tuhan melihat potensi dan tujuan-Nya dalam diri seseorang, bukan keterbatasannya.

Sahabatku, tidak mesti menjadi pahlawan nasional. Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun dapat menjadi pahlawan. Dengan hidup yang memberikan manfaat bagi orang lain, dan menginspirasi orang lain untuk melakukan kebaikan, kita telah menjadi alat bagi Tuhan untuk menyatakan kebenaran-Nya.

DOA: Ya Tuhan, jadikan kami alat-Mu untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan dalam hidup kami.

Pdt. Riston Eirene Sihotang, S.Si., M.Hum

Posting Komentar

0 Komentar