DARI KEPENUHANNYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA
Ayat Bacaan: Yohanes 1 : 10-17
PENDAHULUAN
Dalam
kehidupan sehari-hari, banyak orang hidup dalam kelelahan rohani: merasa
kurang, tidak cukup baik, dan terus berjuang untuk “layak” di hadapan Tuhan
maupun sesama. Seperti bejana yang bocor, sebanyak apa pun diisi, selalu terasa
kosong. Yohanes 1:10-17 mengingatkan bahwa kepenuhan hidup dan layak di hadapan
Tuhan tidak ditemukan dalam usaha diri, melainkan dalam Kristus yang memberi
kasih karunia demi kasih karunia – tanpa henti dan tanpa syarat. Ia bukan hanya
pemberi kasih karunia, melainkan kepenuhan kasih karunia itu sendiri. Dalam
Kristus, Allah hadir secara nyata, dan dari kepenuhan-Nya mengalir anugerah
yang terus-menerus memperbarui hidup manusia. Sadarilah bahwa iman Kristen
bukanlah hasil usaha manusia, melainkan respons atas kasih karunia Allah yang
berlimpah dan tidak terbatas.
PEMBACAAN TEKS DAN PENJELASAN
Perikop
Yohanes pasal 1 merupakan bagian teks yang memperkenalkan Yesus sebagai Firman
(Logos) yang kekal, yang bersama Allah dan adalah Allah – di dalam
Firman segala sesuatu diciptakan. Ayat
10-17 menjadi bagian penting sebagai penghubung antara keilahian Kristus dan
kehadiran-Nya sebagai manusia. Ada hal ironi yang dijelaskan oleh Yohanes, ternyata
dunia yang diciptakan oleh Firman justru tidak mengenal-Nya, bahkan umat
pilihan-Nya sendiri menolak Dia. Ini menyingkapkan kerusakan relasi antara
manusia dan Allah akibat dosa (Ay. 10-11). Dengan demikian status keagamaan,
tradisi, atau identitas lahiriah tidak otomatis membawa seseorang kepada
keselamatan. Sebab keselamatan adalah anugerah, yang diberikan kepada mereka
yang percaya kepada Kristus (Ay. 12-13).
Yohanes menyatakan bahwa Firman telah menjadi daging dan tinggal di antara manusia, penuh kasih karunia dan kebenaran (Ay. 14). Kehadiran Allah di tengah-tengah manusia dalam wujud manusia menegaskan inkarnasi Allah yang transenden menjadi imanen di dalam Yesus Kristus. Dengan demikian, keselamatan bukan dimulai dari hukum, tradisi, atau kelayakan manusia, melainkan dari kasih karunia Allah yang dinyatakan secara sempurna dalam Kristus (Ay. 16-17). Kasih karunia tidak hanya menyelamatkan, tetapi juga membentuk, memperbarui, dan memampukan orang percaya untuk hidup seturut kehendak Allah. Ungkapan “kasih karunia demi kasih karunia” (Baca Yunani: charin anti charitos) artinya, kasih karunia Allah tidak pernah berhenti; ia berkelanjutan, bertumbuh, dan selalu cukup bagi kehidupan orang percaya.
APLIKASI HIDUP
Yohanes
mengajak semua orang untuk berhenti mengandalkan kekuatan sendiri dan belajar
hidup dari kepenuhan Kristus. Kita dipanggil untuk menerima kasih karunia-Nya setiap
hari – sebab kasih karunia menolong kita mengampuni, bersabar, dan mengasihi
tanpa syarat, meskipun disakiti atau dikecewakan. Kasih karunia memampukan kita
bekerja dengan integritas, rendah hati, dan tidak mudah putus asa ketika
menghadapi tekanan. Kasih karunia mendorong kita melayani bukan untuk
pengakuan, melainkan sebagai saluran berkat bagi sesama. Kasih karunia juga
melayakkan kita di hadapan Allah. Dan kasih karunia yang kita terima harus
menjadi kasih karunia yang dibagikan kepada semua orang. Percayalah dan terima
kasih karunia Yesus Kristus.
PENEGASAN
Yesus
Kristus adalah kepenuhan Allah yang hadir di tengah dunia yang rapuh. Dari
kepenuhan-Nya, kita menerima hidup, pengampunan, pembaruan, dan pengharapan.
Tidak ada kekosongan yang tidak dapat dipenuhi oleh kasih karunia-Nya. Karenanya,
hidup orang percaya bukan hidup yang kekurangan, melainkan hidup yang terus
dicukupi oleh anugerah Kristus. Terima dan hiduplah dalam kasih karunia Allah.
Doa:
Ya
Tuhan, terimakasih telah hadir dalam hidup kami. Penuhilah kami dengan kasih
karunia-Mu, sehingga kami layak di hadapanmu, mengasihi sesama tanpa syarat,
melayani bukan untuk pengakuan, memampukan kami bekerja dengan integritas dan
membagikannya kepada semua orang. Amin.
Profil:
C.
Pdt. Jonathan S. Sitorus, S.Th
(Staf
Departemen LITBANG HKI)
0 Komentar