Khotbah Natal PKM Gereja Kibaid di Marinding, 28 Des 2025 - Pdt. Yulianus Tandirerung, M.Div, Ketua BPMS Gereja Kibaid

Allah-Hadir-Menyelamatkan-Keluarga-Ketua-BPMS-Gereja-KIBAID-Pdt-Yulianus-Tandirerung-MDiv

Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga

Khotbah Natal PKM Gereja Kibaid di Marinding, 28 Des 2025 - Pdt. Yulianus Tandirerung, M.Div, Ketua BPMS Gereja Kibaid

Tema Natal PKM: Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga 
Subtema: Keluarga sebagai Ruang Komunikasi dan Tempat Pemulihan
Penulis: Ketua BPMS Gereja KIBAID, Pdt. Yulianus Tandirerung, M.Div

Natal dan Realitas Keluarga Manusia

Perayaan Natal bukan sekadar peringatan kelahiran Yesus Kristus, melainkan momentum iman untuk merefleksikan karya Allah yang hadir secara nyata dalam kehidupan manusia, khususnya di dalam keluarga. Di tengah berbagai dinamika sosial, krisis moral, dan luka relasi yang dialami keluarga-keluarga masa kini, Natal menghadirkan pesan yang kuat: Allah tidak menjauh dari manusia yang terluka, tetapi datang mendekat untuk menyelamatkan dan memulihkan.

Keluarga adalah ruang pertama tempat manusia belajar tentang kasih, penerimaan, dan komunikasi. Namun, Alkitab dengan jujur menunjukkan bahwa sejak awal, keluarga juga menjadi tempat masuknya konflik, dosa, dan keretakan relasi. Oleh karena itu, kehadiran Allah dalam keluarga menjadi kebutuhan yang mendasar, bukan sekadar simbol religius.

Kejatuhan Manusia dan Dampaknya bagi Keluarga

Kitab Kejadian pasal 3 menggambarkan kejatuhan manusia ke dalam dosa sebagai titik awal kerusakan relasi: relasi dengan Allah, dengan sesama, dan dengan diri sendiri. Ketika Allah bertanya, “Di manakah engkau?” (Kej. 3:9), pertanyaan ini bukan soal lokasi, melainkan kondisi relasi yang telah rusak.

Dosa membawa beberapa dampak serius. Pertama, munculnya permusuhan yang sejatinya bukan antar manusia, melainkan antara manusia dengan kuasa kejahatan yang menggoda dan merusak. Namun dalam praktiknya, manusia justru saling menyalahkan dan bermusuhan. Kedua, dosa melahirkan sikap pemberontakan terhadap Allah, di mana manusia ingin menentukan jalannya sendiri tanpa ketaatan. Ketiga, dosa membawa kematian baik secara fisik maupun secara rohani.

Realitas ini masih sangat relevan hingga hari ini. Banyak keluarga mengalami perpecahan, kekerasan, kecanduan, dan kehilangan arah hidup karena dosa yang tidak disadari maupun yang dibiarkan berakar.

Kelahiran Yesus: Jawaban Allah atas Krisis Manusia

Kelahiran Yesus Kristus merupakan penggenapan janji keselamatan Allah sejak kejatuhan manusia. Ketika “genap waktu-Nya” (Gal. 4:4), Allah mengutus Anak-Nya ke dunia. Waktu ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari rencana ilahi yang matang ditopang oleh situasi politik, sosial, dan budaya pada masa itu.

Ironisnya, Mesias yang dinantikan justru ditolak oleh banyak orang. Penolakan ini menunjukkan betapa dalamnya kerusakan rohani manusia akibat dosa. Namun penolakan manusia tidak menggagalkan rencana Allah. Justru melalui kelahiran, penderitaan, dan kebangkitan Kristus, Allah menegaskan kasih-Nya yang tidak bersyarat.

Tema Natal “Allah Hadir Menyelamatkan Keluarga” menjadi sangat kontekstual. Keselamatan yang dikerjakan Kristus bukan hanya bersifat pribadi, tetapi juga komunal—menjangkau keluarga sebagai unit dasar kehidupan manusia.

Keluarga Kristen sebagai Benteng dan Rumah Pemulihan

Keluarga Kristen dipanggil bukan hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk memulihkan. Dalam realitas sosial saat ini, keluarga menghadapi ancaman serius seperti judi, narkoba, kekerasan, korupsi, dan penyimpangan moral lainnya. Karena itu, keluarga harus berfungsi sebagai benteng pertahanan pertama.

Namun, keluarga tidak berhenti pada fungsi pertahanan. Keluarga juga dipanggil menjadi rumah pemulihan pertama bagi anggota yang jatuh dan terluka. Pemulihan tidak selalu mudah, tetapi di situlah kasih Kristus dinyatakan secara konkret.

Keluarga Yusuf dan Maria menjadi teladan yang kuat. Mereka hampir mengalami kehancuran bahkan sebelum keluarga itu terbentuk. Namun melalui ketaatan, kerendahan hati, dan kesediaan mendengar kehendak Allah, keluarga ini justru menjadi saluran keselamatan bagi dunia.

Nilai-Nilai Pemulihan dalam Keluarga Kristiani

1. Membangun Mezbah Keluarga

Kehidupan rohani keluarga tidak dibangun secara instan. Mezbah keluarga melalui doa, pembacaan firman, dan persekutuan menjadi fondasi penting. Yusuf dan Maria dikenal sebagai pribadi yang saleh dan taat. Kesalehan ini juga tercermin dalam tokoh-tokoh seperti Simeon dan Hana yang setia menantikan penggenapan janji Allah.

Mezbah keluarga menolong setiap anggota keluarga untuk bertumbuh secara rohani dan membangun kepekaan terhadap kehendak Tuhan.

2. Budaya Mendengar

Banyak konflik keluarga berakar pada kegagalan mendengar. Yusuf menunjukkan ketaatan yang lahir dari sikap mendengar dan bertindak. Maria pun menyimpan dan merenungkan berbagai peristiwa dalam hatinya. Sikap ini kontras dengan Zakaria yang meragukan firman Tuhan dan harus menanggung konsekuensinya.

Budaya mendengar menolong keluarga untuk lebih bijaksana dalam bertindak dan lebih rendah hati dalam berelasi.

3. Saling Mengampuni

Pengampunan adalah inti pemulihan. Yesus mengajarkan pengampunan tanpa batas, sebagai lawan dari budaya balas dendam yang diwariskan sejak Kain dan diperparah oleh Lamekh. Dalam keluarga, pengampunan membuka jalan bagi pemulihan relasi, khususnya antara suami dan istri.

4. Kejujuran dan Tanggung Jawab Moral

Kisah Yehuda dan Tamar menunjukkan pentingnya kejujuran dan keberanian mengakui kesalahan. Yehuda memilih bersikap jujur, dan Tamar konsisten memperjuangkan kebenaran. Sikap ini menghadirkan pemulihan, bahkan menjadi bagian dari sejarah keselamatan Allah.

5. Pemulihan melalui Penugasan

Pemulihan sejati sering kali dinyatakan melalui kepercayaan dan penugasan. Petrus yang pernah menyangkal Yesus dipulihkan melalui kasih dan mandat pelayanan: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Pemulihan tidak berhenti pada pengampunan, tetapi berlanjut pada tanggung jawab dan pelayanan.

Penutup

Natal mengingatkan kita bahwa Allah tidak hanya hadir di palungan Betlehem, tetapi juga hadir di tengah keluarga-keluarga yang rapuh dan terluka. Keluarga Kristen dipanggil untuk menjadi ruang komunikasi yang sehat dan tempat pemulihan yang nyata.

Ketika keluarga membuka diri terhadap kehadiran Kristus, maka keselamatan tidak hanya menjadi doktrin iman, melainkan realitas hidup yang dirasakan dan disaksikan oleh dunia.

Posting Komentar

0 Komentar