RENUNGAN HARIAN - Senin, 29 Desember 2025 : Matius 2: 11

RENUNGAN-HARIAN-Senin-29-Desember-2025-Matius-2-11

Senin, 29 Desember 2025

Matius 2: 11
Maka masuklah mereka ke dalam rumah itu dan melihat Anak itu bersama Maria, ibu-Nya, lalu sujud menyembah Dia. Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur.

Mas, Kemenyan dan Mur

Sebagai bentuk sukacita atas kelahiran seorang anak, membawa “buah tangan” adalah sebuah kebiasaan yang selama ini kita lakukan. Biasanya “buah tangan” yang kita bawa berkaitan dengan kebutuhan anak yang baru lahir tersebut. Selain itu, tentu kita sesuaikan dengan jenis kelamin bayi yang baru lahir tersebut, apakah laki-laki atau perempuan. Apa yang kita bawa ini mewakili perasaan sukacita yang ada di dalam diri kita, disertai dengan pengharapan kepada Tuhan, kiranya bayi baru yang lahir diberkati oleh Tuhan dalam pertumbuhannya.

Injil Matius menceritakan bahwa ketika Yesus dilahirkan, ada 3 orang yang datang dari jauh untuk menemui bayi Yesus itu, yaitu 3 orang Majus. Mereka adalah cendekiawan, filsuf, dan astronom yang mengamati bintang sebagai petunjuk ilahi, bukan sekadar meramalkan nasib. Kemungkinan besar dari Persia, Babilonia, atau wilayah sekitarnya (Irak/Iran modern). Meski mereka harus menempuh perjalanan panjang, namun mereka dengan setia mengikuti petunjuk yang ada pada mereka dengan membawa “buah tangan” yang layak untuk raja. Mereka mempersembahkan emas, lambang kemuliaan yang dengan tepat menggambarkan kemuliaan Tuhan Yesus. Mereka juga mempersembahkan kemenyan, yang melambangkan doa yang dipanjatkan kepada Allah. Tuhan Yesus mengumpulkan doa syafaat bagi para pengikut-Nya dan karena itu bagian ini menunjukkan iman para majus itu untuk menggambarkan karya ini dengan memberikan kemenyan. Hal terakhir yang mereka persembahkan adalah mur. Ini merupakan rempah-rempah untuk menguburkan orang mati. Mereka memberikan persembahan ini sebagai tanda bahwa Tuhan Yesus akan mati di dalam menggenapi panggilan-Nya untuk memaafkan umat Tuhan. Ketiganya sujud menyembah ketika bertemu dengan bayi Yesus dan menyampaikan persembahan mereka. Orang Majus tidak datang untuk sekadar melihat, tapi untuk menyembah, menunjukkan bahwa mereka mengakui Yesus sebagai Raja meskipun masih bayi.

Sahabatku, apakah kita mencari Yesus dengan sungguh? Sudahkah kita mempersembahkan hati, waktu, sabatku, apakah kita mencari Yesus dengan sungguh? Sudahkah kita mempersembahkan hati, dan hidup kita kepada-Nya? Mari datang kepada Yesus bukan hanya dengan kata, tetapi dengan hidup yang menyembah dan memberi yang terbaik.

Doa:
Tuhan Yesus, ajarku untuk menyembah-Mu dengan hati yang tulus, dan mempersembahkan hidupku sebagai persembahan yang berkenan bagi-Mu.

Pdt. Riston Eirene Sihotang, S.Si., M.Hum

Posting Komentar

0 Komentar