Perempuan di Garis Depan Gereja: Pdt. Nurdia Hutasoit, S.Th — Praeses HKI Dakota yang Membumikan Injil Lewat Ladang dan Kasih


Perempuan-di-Garis-Depan-Gereja-Pdt-Nurdia-Hutasoit-S.Th-Praeses-HKI-Dakota-yang-Membumikan-Injil-Lewat-Ladang-dan-Kasih

Pdt. Nurdia Hutasoit, S.Th

Di tengah bentang alam pegunungan Dairi, Karo, dan Tanah Alas, berdiri sosok pemimpin gereja yang penuh semangat dan kasih. Pdt. Nurdia Hutasoit, S.Th, Praeses Huria Kristen Indonesia (HKI) Daerah IV Dakota (Dairi, Karo, Tanah Alas). Ia bukan hanya seorang pemimpin rohani yang tekun dan berdedikasi, tetapi juga mencatat sejarah penting dalam perjalanan gereja HKI sebagai satu-satunya perempuan yang melayani sebagai Praeses di seluruh wilayah HKI.

Pemimpin yang Membumi dan Melayani dengan Hati

Kepemimpinan Pdt. Nurdia Hutasoit dikenal hangat, tegas, dan penuh empati. Ia menekankan bahwa pelayanan harus berlandaskan kasih dan pengharapan. Bagi beliau, jabatan bukanlah kehormatan, melainkan panggilan untuk melayani dengan kerendahan hati.

Sebagai seorang perempuan di posisi strategis, beliau menunjukkan bahwa kepemimpinan rohani tidak ditentukan oleh gender, tetapi oleh panggilan dan kesetiaan kepada Kristus. Kepemimpinannya menjadi inspirasi bagi banyak pelayan dan jemaat HKI, terutama kaum perempuan, untuk berani terlibat aktif dalam pelayanan gereja.

Wilayah Pelayanan: HKI Daerah IV Dakota

Menurut Wikipedia HKI Daerah IV Dakota, wilayah pelayanan ini berpusat di Sidikalang dan mencakup empat kabupaten besar:

  • Dairi
  • Karo
  • Pakpak Barat
  • Aceh Tenggara (Tanah Alas)

Daerah ini memiliki sekitar 16.210 jiwa jemaat dengan 3.245 kepala keluarga, terbagi dalam 13 resort dan 3 resort khusus, yang tersebar di dataran tinggi dan pedalaman. HKI Daerah IV Dakota dikenal dengan semangat kekeluargaan, gotong royong, dan nilai-nilai kemandirian jemaat yang kuat.

Perempuan Pelayan yang Menginspirasi

Sebagai satu-satunya Praeses perempuan di HKI, Pdt. Nurdia Hutasoit menjadi simbol keteguhan iman dan keberanian perempuan Batak dalam pelayanan gereja. Di tengah tantangan struktural dan budaya, beliau tetap melangkah dengan keyakinan bahwa pelayanan adalah ruang kesetaraan di hadapan Allah.

Ia tidak hanya memimpin dari depan, tetapi juga berjalan bersama jemaat, mendengarkan, membimbing, dan menumbuhkan harapan baru di setiap ladang pelayanan. Edt



Posting Komentar

0 Komentar