RENUNGAN HARIAN - Rabu, 7 Januari 2026 : Imamat 1:1–2

 

RENUNGAN-HARIAN-Rabu-7-Januari-2026-Imamat-1:1-2

Rabu, 7 Januari 2026

Imamat 1:1–2

TUHAN memanggil Musa dan berfirman kepadanya dari dalam Kemah Pertemuan: “Berbicaralah kepada orang Israel dan katakan kepada mereka: Apabila seseorang di antaramu hendak mempersembahkan persembahan kepada TUHAN, haruslah persembahanmu yang kamu persembahkan itu dari ternak, yakni dari lembu sapi atau dari kambing domba.”

Yang Terbaik

Dalam kebaktian-kebaktian di gereja, termasuk di Huria Kristen Indonesia (HKI), ada satu bagian liturgi mengenai persembahan. Di bagian ini, umat memberikan persembahan uang, baik secara fisik dengan memasukkannya ke dalam kantong persembahan, maupun melalui transfer secara langsung atau memakai QRIS yang ada. Apakah persembahan umat hanya dalam bentuk uang? Selain persembahan materi (uang) ada juga yang disebut sebagai persembahan non-materi: waktu, talenta, keterampilan, dan pelayanan (memberi dengan hati yang tulus). Bila diperhatikan, ada banyak motif orang ketika memberi persembahan. Ada yang memberi sebagai ungkapan syukur atas berkat dari Tuhan. Ada lagi yang sebagai pemenuhan nazar atau janji kepada Allah. Namun, dibalik semua motivasi tersebut, maka penting diingat bahwa persembahan kita adalah yang kudus dan berkenan, artinya memberikan yang terbaik sebagai korban pujian (Roma 12:1).

Melalui bacaan pada hari ini, secara khusus pada perikop ini TUHAN sedang memberikan panduan melalui Musa, untuk mengajarkan orang Israel mengenai tata cara memberikan korban persembahan bagi-Nya. TUHAN dengan sangat tegas menekankan bahwa orang Israel hanya boleh memberikan persembahan hewan, entah lembu maupun kambing domba, sebagai ungkapan syukur kepada TUHAN. Apakah ini berarti TUHAN pilih-pilih terhadap persembahan umat-Nya? Kita perlu menyadari bahwa budaya bangsa-bangsa di sekitar orang Israel pada masa itu mengenal praktik mempersembahkan manusia kepada ilah-ilah. Praktik ini pun tidak diperkenankan oleh TUHAN. Itulah mengapa muncul penegasan yang begitu lugas dari TUHAN agar orang Israel menerapkan praktik berpersembahan manusia kepada-Nya. Selain itu, di dalam perikop ini kita juga dapat melihat berbagai langkah rinci untuk memberikan korban persembahan, mulai dari mereka membawa hewan persembahan hingga pasca persembahan dilakukan. Semuanya diatur sebagai pelatihan kedisiplinan orang Israel agar tidak sembarangan dalam memberikan persembahan kepada TUHAN.

Sahabatku, setiap persembahan kita dalam bentuk materi atau non-materi, semestinya didasari dengan kesungguhan hati untuk memberikan yang terbaik untuk Tuhan dengan motivasi yang tidak asal-asalan. Semua persembahan perlu dipersiapkan dan diberikan dengan sikap yang tepat.

DOA: Ya Tuhan, ajar kami untuk dapat memberikan persembahan yang terbaik demi kemuliaan Nama-Mu.

Pdt. Riston Irene Sihotang, S.Si., M.Hum

Posting Komentar

0 Komentar