Latar Belakang
Teks: Khotbah di Bukit
Secara teologis, Matius menyajikan Yesus sebagai
"Musa yang Lebih Besar". Jika Musa menerima Hukum Taurat di Gunung
Sinai, Yesus naik ke atas bukit untuk memberikan interpretasi terdalam tentang
hidup dalam Kerajaan Allah. Yesus berbicara kepada murid-murid-Nya dan orang
banyak yang lelah secara rohani, tertindas secara politik (penjajahan Romawi),
dan miskin secara ekonomi. Kepada mereka yang merasa "tidak
beruntung", Yesus memberikan standar kebahagiaan yang paradoks. Arti Kata "Berbahagialah" (Makarios): Dalam
bahasa Yunani, Makarios berarti
"diberkati" atau "beruntung". Ini bukan tentang emosi
sesaat, melainkan pengakuan Allah atas kondisi seseorang. Ini adalah sukacita
ilahi yang tidak bisa dipengaruhi oleh keadaan eksternal.
Penjelasan
Teologis
Yesus membagi kebahagiaan ke dalam dua dimensi besar:
1.
Kebahagiaan dalam Ketergantungan (Ayat 3-6)
·
Miskin
di Hadapan Allah: "Berbahagialah orang yang
miskin di hadapan Allah..." (Ayat 3). Kebahagiaan dimulai
ketika kita sadar bahwa kita tidak memiliki apa pun secara rohani untuk
"membeli" keselamatan. Orang yang berbahagia adalah mereka yang
"bangkrut" secara rohani sehingga mereka hanya bergantung pada
anugerah Tuhan.
·
Dukacita
yang Memulihkan: Orang yang berdukacita
(karena dosa atau penderitaan dunia) justru berbahagia karena mereka akan
dihibur langsung oleh Tuhan.
·
Kelembutan
Hati: Berbeda dengan standar dunia yang
mengagungkan kekuatan, kebahagiaan di dalam Tuhan dimiliki oleh mereka yang
lembut hatinya, karena mereka menyerahkan hak mereka kepada kedaulatan Allah.
2.
Kebahagiaan dalam Karakter dan Tindakan (Ayat 7-12)
·
Kemurahan
dan Kesucian: Hidup berbahagia tercermin
melalui kemurahan hati (belas kasih) dan kesucian hati (integritas fokus kepada
Allah). Hati yang bersih memungkinkan seseorang "melihat Allah" dalam
setiap aspek hidupnya.
·
Pembawa
Damai: Kebahagiaan bukan tentang hidup
tanpa konflik, tetapi tentang menjadi agen rekonsiliasi. Mereka disebut
"anak-anak Allah" karena mereka meniru sifat Allah yang adalah
pendamai.
·
Keteguhan
dalam Penganiayaan: Bagian penutup (ayat
10-12) adalah puncaknya. Yesus menyatakan bahwa orang yang dianiaya karena
kebenaran tetaplah berbahagia. Mengapa? Karena upah mereka besar di sorga.
Fokusnya beralih dari penderitaan sementara ke kemuliaan kekal.
Kesimpulan
Teologis
Hidup berbahagia di dalam Tuhan menurut Matius 5 adalah:
1.
Bukan
tentang Apa yang Kita Miliki, tapi Siapa yang Memiliki Kita: Kita berbahagia karena kita adalah warga Kerajaan Sorga.
2.
Bukan
tentang Ketiadaan Masalah, tapi Kehadiran Kristus: Bahkan dalam kemiskinan roh, dukacita, dan penganiayaan,
Kristus hadir sebagai pemuas dahaga akan kebenaran.
3.
Kebahagiaan
yang Berorientasi Kekekalan: Kebahagiaan
di dalam Tuhan tidak habis saat kita meninggal; ia justru mencapai puncaknya
saat kita menerima "upah yang besar di sorga" Amen
0 Komentar