Ketika Immanuel Hadir di Marinding
Natal dan Pertemuan Raya PKM Gereja KIBAID 2025: Iman, Keluarga, Budaya, dan Masa Depan
Oleh: Redaksi
Di tengah sejuknya alam Toraja dan hangatnya kebersamaan umat, Jemaat Marinding, Kabupaten Tana Toraja, menjadi saksi perjumpaan iman kaum muda Gereja KIBAID dari seluruh penjuru Indonesia. Selama 26–29 Desember 2025, sekitar 3.000 peserta berkumpul dalam Natal dan Pertemuan Raya Persekutuan Kaum Muda (PKM) Gereja KIBAID Se-Indonesia, membawa satu kerinduan bersama: merayakan kehadiran Allah yang menyelamatkan keluarga dan memulihkan kehidupan.
Perayaan ini berlangsung di wilayah Kabupaten Tana Toraja sebagai kabupaten induk, tempat sejarah, budaya, dan iman bertaut erat. Dari sinilah pesan Natal disuarakan kembali bukan sekadar sebagai ritual tahunan, melainkan sebagai peristiwa iman yang hidup dan berdampak.
Natal yang Berakar pada Keluarga
Perayaan Natal PKM KIBAID 2025 berpijak pada Tema Natal Nasional PGI Tahun 2025:
“Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga” (Matius 1:21–24).
Tema ini menegaskan bahwa kehadiran Kristus sebagai Immanuel bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi realitas yang menyentuh kehidupan keluarga masa kini keluarga yang bergumul dengan jarak, perubahan zaman, tantangan digital, dan krisis relasi.
Dalam berbagai ibadah, khotbah, dan refleksi, kaum muda diajak melihat keluarga sebagai ruang pertama iman dibentuk, tempat kasih Allah diterjemahkan dalam kesabaran, pengampunan, dan tanggung jawab.
Toraja Masero: Iman yang Merawat Kehidupan
Kehadiran Bupati Tana Toraja, dr. Sadrak Tombeq, Sp.A, bersama istri DR. Erny Yetty Riman, Ketua TP PKK Kabupaten Tana Toraja, memberi warna tersendiri bagi perayaan ini.
Dalam sambutannya, Bupati mengangkat nilai “TORAJA MASERO” Toraja yang bersih pikiran, bersih hati, dan bersih lingkungan. Menurutnya, hanya dengan Masero itulah Toraja akan menghadirkan “Maelo” (Indah) dan “Mal’bi” (Mulya): kehidupan yang bermartabat dan berkelanjutan.
Sementara itu, Ketua TP PKK menegaskan pentingnya kesadaran ekologis. Ia mengingatkan bahaya limbah plastik yang sulit terurai dan berdampak serius bagi kesehatan. Sebagai wujud komitmen, diserahkan enam unit dispenser air minum dan ratusan tumbler, mendorong budaya ibadah yang ramah lingkungan. Sebuah pesan kuat bahwa iman tidak terpisah dari tanggung jawab menjaga ciptaan.
Kaum Muda, Keluarga, dan Terang di Tengah Dunia
Ketua Biro PKM Gereja KIBAID, Freddy Hesli Sampelilling, S.Psi., M.Psi., Psikolog, dalam sambutannya menekankan bahwa Natal adalah ruang pembaruan relasi:
“Natal mengundang kita membuka hati untuk mengalami kembali kehadiran Immanuel di dalam keluarga. Dari sanalah kaum muda dipanggil menjadi terang dan berkat bagi orang tua, gereja, dan masyarakat.”
Pesan ini menjadi benang merah seluruh rangkaian kegiatan: ibadah, diskusi, olahraga, seni, hingga perjumpaan informal antarsesama peserta.
Ketua Panitia, Pnt. Herman Sholla, menyampaikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan terselenggara berkat kerja sama lintas pihak pemerintah daerah, BPMS Gereja KIBAID, klasis, wilayah, jemaat lokal, dan ratusan panitia yang bekerja dalam semangat gotong royong.
Ketua BPMS Gereja KIBAID, Pdt. Yulianus Tandirerung, M.Div., menegaskan bahwa tema Natal Nasional 2025 mengingatkan gereja bahwa keselamatan Allah bersifat holistik. Natal tidak berhenti pada perayaan simbolik, tetapi mengutus kaum muda untuk menjadi pembawa damai dan pemulih relasi terutama di tengah keluarga yang menghadapi tantangan moral, ekonomi, dan sosial.
Melalui ibadah, ceramah, sarasehan, serta berbagai kegiatan kreatif dan olahraga, kaum muda dibina secara holistik spiritual, mental, sosial, dan emosional agar siap menjadi generasi penerus gereja dan bangsa yang berintegritas.
Ibadah sebagai Ruang Produksi Makna
Dalam sesi sarasehan, Pnt. Dr. Ir. Jansen Tangketasik, M.Si., mengajak peserta melihat Natal dari perspektif sosiologi dan antropologi. Ia menegaskan bahwa ibadah bukan sekadar aktivitas spiritual, melainkan ruang produksi makna sosial.
Ibadah, puji-pujian, dan puncak Natal membentuk memori kolektif kaum muda. Pertandingan seni menjadi ruang negosiasi identitas iman dan budaya, sementara olahraga menjembatani perbedaan latar belakang dalam interaksi yang setara. Semua itu memperkuat solidaritas dan jejaring kaum muda KIBAID secara nasional.
Diaspora Pulang, Ekonomi Bergerak
Natal di Marinding juga menjadi momen pulang kampung bagi diaspora Toraja. Kerinduan bertemu keluarga, sahabat, dan komunitas iman berpadu dengan kontribusi nyata bagi daerah.
Penginapan, transportasi, jasa salon, kuliner, hingga pemasaran hasil pertanian dan ternak jemaat lokal mengalami peningkatan. Perayaan iman ini sekaligus menggerakkan roda ekonomi rakyat sebuah bukti bahwa gereja hadir dan berdampak di tengah masyarakat.
Misi Digital: Iman di Era Baru
Menjawab tantangan zaman, sesi Literasi Digital bersama Soni Mongan, S.Pd., membekali peserta untuk menggunakan media sosial sebagai ruang pelayanan. YouTube, Instagram, dan Facebook dipahami bukan sekadar sarana hiburan, melainkan ladang misi baru bagi kaum muda yang hidup di dunia digital.
Menyalakan Terang, Mengutus Generasi
Puncak perayaan berlangsung dalam Ibadah Malam Natal, 29 Desember 2025, dengan prosesi penyalaan lilin, puji-pujian, dan pemberitaan Firman Tuhan. Dalam suasana khidmat itu, ribuan kaum muda memperbarui komitmen iman mereka.
Natal dan Pertemuan Raya PKM KIBAID 2025 bukan sekadar agenda besar gereja, tetapi tanda pengutusan: mengutus kaum muda kembali ke keluarga, ke gereja, dan ke dunia dengan iman yang menyala.
Seperti seruan yang menggema di akhir acara:
“PKM KIBAID: Maju, Maju, Maju!”
Terang itu kini dibawa pulang ke rumah, ke komunitas, dan ke masa depan.
0 Komentar