https://www.freebibleimages.org/illustrations/vb-jude/
Surat Yudas ditulis oleh Yudas,
saudara Yesus Kristus (adelphos tou Iēsou Christou), yang secara
harfiah berarti “saudara dari Yesus Kristus.” Penunjukan ini menegaskan bahwa
Yudas adalah saudara biologis Yesus, bukan Yudas Iskariot. Identifikasi
ini memberikan otoritas personal dan kedekatan emosional ketika menulis surat
kepada jemaat.
Beberapa ahli Perjanjian Baru menekankan bahwa meskipun Yudas menyebut dirinya saudara Yesus, ia baru menjadi pengikut Kristus setelah kebangkitan-Nya (Yohanes 7:5; Kisah Para Rasul 1:14). Awalnya, Yudas kemungkinan tidak percaya pada pelayanan Yesus, tetapi setelah kebangkitan, ia menjadi pengikut yang setia dan ikut berdoa bersama keluarga Yesus. Dengan latar belakang ini, Yudas menulis suratnya untuk menasihati jemaat yang menghadapi pengajaran palsu, kefasikan, dan potensi perpecahan, sekaligus menegaskan pentingnya iman, doa, dan kasih Allah dalam kehidupan rohani.
Latar Belakang Konteks Jemaat
Jemaat yang menjadi penerima surat Yudas hidup dalam situasi sosial-keagamaan yang kompleks: Mereka berada di antara masyarakat Yahudi dan pagan, menghadapi tekanan budaya yang berbeda-beda. Beberapa anggota jemaat mulai meniru pengajar palsu, hidup menurut hawa nafsu (epithumia sarkos kai anomia), dan mengandalkan diri sendiri, bukan bimbingan Roh Kudus. Kehadiran “pengejek” (mōmos) yang meremehkan iman menimbulkan ancaman terhadap keteguhan rohani jemaat. Situasi ini membuat jemaat rentan terhadap ajaran sesat dan perpecahan, sehingga mereka membutuhkan pengingat agar tetap berakar pada firman Tuhan dan hidup dalam kasih Allah.
Lantas Apa yang Terjadi?
Pengajaran Palsu Muncul: Beberapa anggota jemaat mulai mengikuti pengajar yang menyesatkan, yang menekankan dorongan hawa nafsu dan menolak hukum Allah. Kemudian ancaman rohani: Kehadiran pengejek dan pengajar palsu mengancam kesatuan dan iman jemaat, serta bisa menjerumuskan mereka ke dalam perilaku yang tidak kudus. Sehingga Yudas mengingatkan jemaat agar berpegang pada ajaran rasul. Menekankan pentingnya iman yang kudus, doa dalam Roh Kudus, dan kasih Allah yang aktif. Serta memberikan panduan tentang bagaimana menunjukkan belas kasihan dengan bijaksana sesuai kondisi setiap orang dalam jemaat.
Pendalaman Teks Ayat per Ayat
Ayat 17–18
Yudas mengajak jemaat untuk mengingat perkataan rasul-rasul, yang telah
menubuatkan bahwa pada zaman akhir akan muncul pengejek yang hidup menuruti
hawa nafsu (epithumia sarkos kai anomia). Mereka digambarkan sebagai
pengikut ajaran palsu yang menolak hukum Allah dan hidup menurut dorongan
duniawi, bukan Roh Kudus. Pesan Yudas jelas: jemaat harus tetap waspada,
tidak terpengaruh oleh hawa nafsu orang lain, dan memelihara diri dalam kasih
Allah (agapē).
Ayat 19
Pengajar palsu memiliki ciri khas: memecah belah (diakrinō), mengandalkan
diri sendiri (hupostrephō), dan tidak memiliki Roh Kudus (pneuma
ouk echousin). Kehidupan tanpa Roh Kudus membuat iman dan kasih tidak
berkembang. Oleh karena itu, memelihara diri dalam kasih Allah berarti hidup
dipimpin Roh, menjaga kesatuan, dan menolak pengaruh yang merusak komunitas
iman.
Ayat 20–21
Yudas memberi instruksi praktis yaitu membangun iman yang paling suci (hagnē
pistis), menjadi fondasi kehidupan rohani. Berdoa dalam Roh Kudus (en
pneumati hagiō) untuk mendapatkan kekuatan rohani dan bimbingan. Dan peliharalah diri dalam kasih
Allah (agapēn), menjaga diri dan orang lain sambil menantikan
rahmat Tuhan untuk hidup kekal. Perpaduan iman, doa, dan kasih aktif ini
membentuk kedewasaan rohani, memampukan jemaat menghadapi godaan dunia dan
pengajaran sesat.
Ayat 22–23
Yudas menekankan praktik kasih yang bijaksana dengan menunjukkan
belas kasihan (eleeo) kepada mereka yang ragu-ragu. Menyelamatkan
mereka dari kebinasaan (apokteinomai, figuratif). Dan bagi
yang hidup dalam dosa, tetap tunjukkan kasih sambil menjaga kewaspadaan
dan menolak noda dosa (bdelugma).
Kasih Allah yang memelihara diri bukan pasif; ia bersifat adaptif, menyelamatkan, menjaga kekudusan pribadi, dan menolong sesama.
Kesimpulan
Memelihara diri dalam kasih Allah berarti hidup dengan Iman yang kudus, berakar pada firman Tuhan. Doa yang dipimpin Roh Kudus, sebagai sumber kekuatan rohani. Kasih yang aktif dan bijaksana, menolong sesama tanpa menoleransi dosa.
Kasih Allah yang memelihara diri bukan hanya pengalaman pribadi, tetapi juga sarana meneguhkan iman, menjaga komunitas rohani, dan menyelamatkan orang lain dari perpecahan dan pengajaran palsu.
0 Komentar