KHOTBAH: “Tuhan mengasihi Segala Bangsa/ Debata manghaholongi sude Bangso” Maleakhi 1:1–6 ; Pdt. Boy F. Tampubolon

Pendahuluan

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Sebelum kita melihat pesan Tuhan melalui kitab Maleakhi, kita perlu mengingat apa yang terjadi pada umat Israel dalam masa pembuangan. Pembuangan bukan sekadar perpindahan tempat tinggal. Itu adalah masa paling gelap dan paling pedih dalam sejarah umat Tuhan.

Yerusalem hancur, Bait Allah dibakar, dan bangsa Israel digiring ribuan kilometer ke negeri asing. Mereka kehilangan tanah, kehilangan kota, kehilangan kebebasan bahkan kehilangan pusat ibadah mereka. Segala hal yang selama ini menjadi kebanggaan mereka, runtuh dalam sekejap.

Di Babel, mereka hidup sebagai tawanan.
Jauh dari rumah, jauh dari tempat kudus, dan jauh dari rasa aman.
Di sana mereka menangis, bertanya-tanya:
“Apakah Tuhan masih bersama kami? Apakah Ia masih mengasihi kami?”

Namun justru di masa paling gelap itu, Tuhan bekerja memurnikan umat-Nya.
Di pembuangan, mereka belajar kembali berdoa.
Di pembuangan, mereka kembali mencintai Firman.
Di pembuangan, mereka mulai meninggalkan berhala.
Dan di pembuangan, Tuhan menunjukkan bahwa kasih-Nya tidak dibatasi oleh tempat, tidak hilang meski Bait Allah hancur.

Pembuangan bukan akhir.
Pembuangan adalah sekolah Tuhan untuk memulihkan hati umat-Nya.
Dan setelah 70 tahun, Tuhan membawa mereka pulang kembali.

Tetapi… ketika mereka pulang, semangat itu mulai memudar.
Ibadah kembali menjadi kebiasaan, bukan kerinduan.
Korban dipersembahkan asal-asalan.
Pemimpin rohani kehilangan rasa hormat kepada Tuhan.

Di sinilah suara Maleakhi datang untuk mengingatkan bahwa Tuhan yang menyertai mereka di pembuangan, layak dihormati setelah mereka kembali.

Mereka sudah pulang, sudah membangun Bait Allah, sudah beribadah lagi, tetapi ada satu masalah besar: mereka tidak lagi menghormati Tuhan seperti dulu.

Ibadah masih berjalan, korban masih dipersembahkan, imam masih bertugas, tetapi hati mereka sudah tawar.

Dan inilah yang Tuhan tegur melalui Maleakhi.

1. Tuhan Selalu Memulai dengan Kasih (Ayat 2)

Tuhan berkata:
“Aku mengasihi kamu.”

Tapi umat menjawab:
“Mana buktinya Tuhan mengasihi kami?”

Mereka tidak bisa melihat kasih Allah karena sedang menghadapi masalah ekonomi, kelelahan hidup, dan tekanan dari bangsa lain.

Kadang kita juga begitu.
Ketika hidup berat, kita berkata:

  • "Tuhan, apa Engkau masih sayang sama saya?"
  • "Kondisi kok makin susah? Mana kasih Tuhan?"

Padahal kasih Tuhan tidak selalu terlihat dari keadaan nyaman.
Kasih Tuhan terlihat dari penyertaan-Nya yang tidak pernah berhenti.

Contoh nyata pelayanan

Saya pernah menemui seorang jemaat yang berkata begini di ruang konseling:

“Pak Pendeta, saya capek. Saya doa, saya melayani, tapi masalah kok tidak selesai-selesai? Apa Tuhan masih sayang?”

Saya jawab perlahan:
“Kalau Tuhan tidak sayang, kamu tidak mungkin bertahan sampai hari ini.”

Kadang kita lupa bahwa bisa bangun pagi, bisa napas, bisa ibadah, itu semua bukti kasih Tuhan.

2. Cara Tuhan Mengasihi Bisa Berbeda dari Harapan Kita (Ayat 2b–5)

Umat Israel merasa Tuhan tidak sayang.
Lalu Tuhan menjawab dengan mengingatkan mereka:

  • Tuhan memilih Yakub (Israel)
  • Tuhan memelihara Israel
  • Tuhan memulihkan Israel dari pembuangan
  • Sementara Edom (musuh mereka) tidak dipulihkan

Artinya: Tuhan bekerja, tapi umat tidak menyadarinya.

Contoh nyata pelayanan

Ketika gereja kita sulit membangun, sulit membeli alat musik, atau sulit mendukung pelayanan, kita sering berkata:

“Tuhan kok tidak buka jalan?”

Padahal dalam perjalanan pelayanan:

  • ada jemaat yang tiba-tiba tergerak hatinya memberi persembahan,
  • ada donatur yang tidak kita kenal menolong,
  • ada anggota majelis yang bekerja keras tanpa pamrih,
  • ada pertolongan yang datang tepat sebelum rapat atau keputusan.

Itu semua adalah “bukti-bukti kecil” yang sering tidak terlihat.

3. Masalah Utama Umat Bukan Ekonomi, Tapi Kehilangan Hormat kepada Tuhan (Ayat 6)

Tuhan berkata:
“Jika Aku Bapa, di manakah hormatmu?”

Imam-imam membawa korban cacat:

  • yang buta
  • yang pincang
  • yang sakit

Ibadah masih ada, tapi kualitasnya turun.
Hati mereka tidak sungguh-sungguh lagi.

Ini pesan penting bagi gereja masa kini:

Masalah utama gereja bukan fasilitas, bukan dana, tetapi hati yang tidak lagi menghormati Tuhan.

Contoh nyata pelayanan

Saya pernah melihat sebuah pelayanan di mana:

  • Latihan koor dilakukan asal-asalan
  • Penatua datang terlambat ke ibadah tapi tidak merasa bersalah
  • Pengkhotbah menyiapkan khotbah hanya 10 menit sebelum naik mimbar
  • Kaum muda sibuk dengan HP saat ibadah
  • Panitia natal sibuk dekor tapi melupakan doa

Begitu banyak kegiatan, tetapi hati tidak diarahkan kepada Tuhan.

Tuhan tidak mencari yang “sempurna”, tetapi Ia mencari yang sungguh-sungguh.

4. Mengembalikan Hormat kepada Tuhan

Bagaimana caranya?

(1) Kembalikan hati kita dalam ibadah

Datang bukan hanya untuk hadir, tapi untuk mengalami Tuhan.

(2) Berikan yang terbaik, bukan yang tersisa

  • Waktu terbaik
  • Sikap terbaik
  • Pelayanan terbaik
  • Persembahan terbaik

(3) Mulai dari pemimpin dulu

Maleakhi menegur imam.
Saat pemimpin sungguh-sungguh, jemaat akan ikut.

Contoh nyata pelayanan

Suatu kali, dalam sebuah rapat besar persiapan acara gereja, saya ajak majelis untuk:

  • tidak mulai rapat sebelum kita berdoa sungguh-sungguh
  • memeriksa motivasi hati: melayani untuk Tuhan, bukan gengsi
  • memastikan pelayanan dilakukan dengan integritas, bukan formalitas

Dan perubahan mulai terlihat:
rapat lebih tenang, keputusan lebih bijak, dan pelayanan berjalan dengan damai.

Pemulihan gereja selalu dimulai dari pemulihan hati para pemimpinnya.

Penutup: Tuhan Ingin Kita Menghormati-Nya Kembali

Saudara-saudara,
Tuhan bukan marah karena ego-Nya dilukai.
Tuhan menegur karena:

  • Ia Bapa yang mengasihi,
  • Ia ingin relasi kita dipulihkan,
  • Ia ingin ibadah kita kembali hidup.

Kasih Tuhan selalu lebih dahulu.
Yang Ia minta hanya satu:
kembalilah menghormati Tuhan dengan segenap hati.

Posting Komentar

0 Komentar