Pendahuluan
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Sebelum kita melihat pesan Tuhan melalui kitab Maleakhi, kita perlu mengingat
apa yang terjadi pada umat Israel dalam masa pembuangan. Pembuangan
bukan sekadar perpindahan tempat tinggal. Itu adalah masa paling gelap dan
paling pedih dalam sejarah umat Tuhan.
Yerusalem hancur, Bait Allah dibakar, dan
bangsa Israel digiring ribuan kilometer ke negeri asing. Mereka kehilangan
tanah, kehilangan kota, kehilangan kebebasan bahkan kehilangan pusat ibadah
mereka. Segala hal yang selama ini menjadi kebanggaan mereka, runtuh dalam
sekejap.
Di Babel, mereka hidup sebagai tawanan.
Jauh dari rumah, jauh dari tempat kudus, dan jauh dari rasa aman.
Di sana mereka menangis, bertanya-tanya:
“Apakah Tuhan masih bersama kami? Apakah Ia masih mengasihi kami?”
Namun justru di masa paling gelap itu, Tuhan
bekerja memurnikan umat-Nya.
Di pembuangan, mereka belajar kembali berdoa.
Di pembuangan, mereka kembali mencintai Firman.
Di pembuangan, mereka mulai meninggalkan berhala.
Dan di pembuangan, Tuhan menunjukkan bahwa kasih-Nya tidak dibatasi oleh
tempat, tidak hilang meski Bait Allah hancur.
Pembuangan bukan akhir.
Pembuangan adalah sekolah Tuhan untuk memulihkan hati umat-Nya.
Dan setelah 70 tahun, Tuhan membawa mereka pulang kembali.
Tetapi… ketika mereka pulang, semangat itu
mulai memudar.
Ibadah kembali menjadi kebiasaan, bukan kerinduan.
Korban dipersembahkan asal-asalan.
Pemimpin rohani kehilangan rasa hormat kepada Tuhan.
Di sinilah suara Maleakhi datang untuk
mengingatkan bahwa Tuhan yang menyertai mereka di pembuangan, layak dihormati
setelah mereka kembali.
Mereka sudah pulang, sudah membangun Bait
Allah, sudah beribadah lagi, tetapi ada satu masalah besar: mereka tidak
lagi menghormati Tuhan seperti dulu.
Ibadah masih berjalan, korban masih
dipersembahkan, imam masih bertugas, tetapi hati mereka sudah tawar.
Dan inilah yang Tuhan tegur melalui Maleakhi.
1. Tuhan Selalu Memulai dengan Kasih (Ayat 2)
Tuhan berkata:
“Aku mengasihi kamu.”
Tapi umat menjawab:
“Mana buktinya Tuhan mengasihi kami?”
Mereka tidak bisa melihat kasih Allah karena
sedang menghadapi masalah ekonomi, kelelahan hidup, dan tekanan dari bangsa
lain.
Kadang kita juga begitu.
Ketika hidup berat, kita berkata:
- "Tuhan,
apa Engkau masih sayang sama saya?"
- "Kondisi
kok makin susah? Mana kasih Tuhan?"
Padahal kasih Tuhan tidak selalu terlihat dari
keadaan nyaman.
Kasih Tuhan terlihat dari penyertaan-Nya yang tidak pernah berhenti.
Contoh
nyata pelayanan
Saya pernah menemui seorang jemaat yang
berkata begini di ruang konseling:
“Pak Pendeta, saya capek. Saya doa, saya
melayani, tapi masalah kok tidak selesai-selesai? Apa Tuhan masih sayang?”
Saya jawab perlahan:
“Kalau Tuhan tidak sayang, kamu tidak mungkin bertahan sampai hari ini.”
Kadang kita lupa bahwa bisa bangun pagi,
bisa napas, bisa ibadah, itu semua bukti kasih Tuhan.
2. Cara Tuhan Mengasihi Bisa Berbeda dari Harapan Kita (Ayat 2b–5)
Umat Israel merasa Tuhan tidak sayang.
Lalu Tuhan menjawab dengan mengingatkan mereka:
- Tuhan
memilih Yakub (Israel)
- Tuhan
memelihara Israel
- Tuhan
memulihkan Israel dari pembuangan
- Sementara
Edom (musuh mereka) tidak dipulihkan
Artinya: Tuhan bekerja, tapi umat tidak
menyadarinya.
Contoh
nyata pelayanan
Ketika gereja kita sulit membangun, sulit
membeli alat musik, atau sulit mendukung pelayanan, kita sering berkata:
“Tuhan kok tidak buka jalan?”
Padahal dalam perjalanan pelayanan:
- ada
jemaat yang tiba-tiba tergerak hatinya memberi persembahan,
- ada
donatur yang tidak kita kenal menolong,
- ada
anggota majelis yang bekerja keras tanpa pamrih,
- ada
pertolongan yang datang tepat sebelum rapat atau keputusan.
Itu semua adalah “bukti-bukti kecil” yang
sering tidak terlihat.
3. Masalah Utama Umat Bukan Ekonomi, Tapi Kehilangan Hormat kepada Tuhan
(Ayat 6)
Tuhan berkata:
“Jika Aku Bapa, di manakah hormatmu?”
Imam-imam membawa korban cacat:
- yang
buta
- yang
pincang
- yang
sakit
Ibadah masih ada, tapi kualitasnya turun.
Hati mereka tidak sungguh-sungguh lagi.
Ini pesan
penting bagi gereja masa kini:
Masalah utama gereja bukan fasilitas, bukan
dana, tetapi hati yang tidak lagi menghormati Tuhan.
Contoh
nyata pelayanan
Saya pernah melihat sebuah pelayanan di mana:
- Latihan
koor dilakukan asal-asalan
- Penatua
datang terlambat ke ibadah tapi tidak merasa bersalah
- Pengkhotbah
menyiapkan khotbah hanya 10 menit sebelum naik mimbar
- Kaum
muda sibuk dengan HP saat ibadah
- Panitia
natal sibuk dekor tapi melupakan doa
Begitu banyak kegiatan, tetapi hati tidak
diarahkan kepada Tuhan.
Tuhan tidak mencari yang “sempurna”, tetapi Ia
mencari yang sungguh-sungguh.
4. Mengembalikan Hormat kepada Tuhan
Bagaimana caranya?
(1)
Kembalikan hati kita dalam ibadah
Datang bukan hanya untuk hadir, tapi untuk
mengalami Tuhan.
(2) Berikan
yang terbaik, bukan yang tersisa
- Waktu
terbaik
- Sikap
terbaik
- Pelayanan
terbaik
- Persembahan
terbaik
(3) Mulai
dari pemimpin dulu
Maleakhi menegur imam.
Saat pemimpin sungguh-sungguh, jemaat akan ikut.
Contoh
nyata pelayanan
Suatu kali, dalam sebuah rapat besar persiapan
acara gereja, saya ajak majelis untuk:
- tidak
mulai rapat sebelum kita berdoa sungguh-sungguh
- memeriksa
motivasi hati: melayani untuk Tuhan, bukan gengsi
- memastikan
pelayanan dilakukan dengan integritas, bukan formalitas
Dan perubahan mulai terlihat:
rapat lebih tenang, keputusan lebih bijak, dan pelayanan berjalan dengan damai.
Pemulihan gereja selalu dimulai dari pemulihan
hati para pemimpinnya.
Penutup: Tuhan Ingin Kita Menghormati-Nya Kembali
Saudara-saudara,
Tuhan bukan marah karena ego-Nya dilukai.
Tuhan menegur karena:
- Ia
Bapa yang mengasihi,
- Ia
ingin relasi kita dipulihkan,
- Ia
ingin ibadah kita kembali hidup.
Kasih Tuhan selalu lebih dahulu.
Yang Ia minta hanya satu:
kembalilah menghormati Tuhan dengan segenap hati.
0 Komentar