Ketika membaca artikel “Kesepian Mengintai Mahasiswa” di harian Kompas (3 November 2025), saya merasa seperti bercermin. Di balik rutinitas kuliah, tugas, dan pertemanan yang tampak ramai, sering kali ada ruang sunyi yang sulit dijelaskan, rasa sepi yang perlahan datang tanpa suara. Artikel itu mengingatkan saya bahwa kesepian bukan hanya pengalaman pribadi saya, tetapi juga dialami oleh banyak mahasiswa lain di berbagai kota. Namun, di balik kesepian itu, saya belajar menemukan sesuatu yang lebih dalam: kehadiran Allah yang setia.
Kesepian
yang Tidak Terlihat
Kesepian bisa datang bahkan saat kita dikelilingi banyak orang. Ada saat-saat di kampus ketika saya merasa “ada di tengah keramaian tapi tetap sendiri.” Perasaan itu muncul ketika relasi terasa dangkal, ketika pencapaian tidak memberi makna, atau ketika beban hidup terasa berat tanpa tempat untuk bersandar.
Sebagai manusia, kita memang diciptakan untuk berelasi. Allah sendiri berkata, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja” (Kejadian 2:18). Namun, di tengah dunia modern yang sibuk dan kompetitif, relasi sering menjadi formalitas. Kita sibuk mengejar nilai, karier, dan pengakuan, hingga lupa bahwa jiwa kita membutuhkan kasih, pengertian, dan keintiman rohani.
Kesepian
sebagai Ruang Perjumpaan dengan Allah
Awalnya saya menganggap kesepian sebagai musuh yang harus dihindari. Tapi dalam perjalanan iman, saya belajar bahwa kesepian bisa menjadi ruang perjumpaan dengan Allah. Dalam keheningan, saya mulai mendengar suara lembut yang menenangkan hati: suara Tuhan yang mengingatkan bahwa saya dicintai apa adanya, bukan karena prestasi atau penampilan.
Yesus pun pernah merasakan kesepian yang mendalam. Di Getsemani, Ia berdoa sendirian ketika murid-murid-Nya tertidur (Matius 26:40). Di kayu salib, Ia berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Matius 27:46). Dari sana saya menyadari, Yesus mengerti benar rasa sepi manusia, dan melalui penderitaan-Nya, Ia menebus dan menyertai kita dalam setiap kesunyian.
Belajar
Membangun Komunitas Kasih
Pendidikan Agama Kristen mengajarkan saya bahwa iman bukan hanya hubungan pribadi dengan Tuhan, tetapi juga panggilan untuk hidup dalam komunitas kasih. Kesepian sering tumbuh karena kita menutup diri dari sesama, atau karena lingkungan kita tidak memberi ruang untuk saling peduli.
Saya belajar bahwa menjadi pengikut Kristus berarti membuka hati untuk hadir bagi orang lain. Kadang, cara terbaik untuk mengatasi kesepian adalah dengan menjadi teman bagi mereka yang kesepian juga. Dalam pelayanan kampus, kelompok doa, atau persekutuan kecil, saya menemukan bahwa kasih Allah menjadi nyata melalui kehadiran orang-orang yang mau mendengarkan tanpa menghakimi.
Menemukan
Makna dan Harapan
Kesepian tidak selalu buruk. Ia bisa menjadi kesempatan untuk mengenal diri sendiri, memperdalam relasi dengan Tuhan, dan menumbuhkan empati terhadap sesama. Dari sana, saya belajar bahwa kehidupan bukan hanya tentang pencapaian, tetapi tentang menemukan makna di tengah proses.
Mazmur 139:7-10 berkata : “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu?... jika aku naik ke langit, Engkau di sana, jika aku membuat tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau.” Ayat ini meneguhkan saya bahwa tidak ada tempat di mana saya benar-benar sendirian. Di tengah rasa sepi sekalipun, Tuhan tetap hadir, menopang, dan menuntun.
Penutup:
Kesepian yang Menjadi Berkat
Kini, ketika kesepian datang, saya tidak lagi langsung menolaknya. Saya belajar menjadikannya momen untuk berdiam diri di hadapan Tuhan, mengatur napas, dan membuka hati. Kesepian menjadi guru rohani yang menuntun saya untuk lebih bergantung pada kasih Allah dan lebih peka terhadap kebutuhan orang lain.
Saya percaya, di tengah dunia yang semakin individualistis, mahasiswa Kristen dipanggil untuk menjadi terang, menghadirkan kasih, empati, dan pengharapan bagi mereka yang terjebak dalam kesepian. Sebab di dalam Kristus, kita tidak pernah benar-benar sendiri.
0 Komentar