KHOTBAH MINGGU 11 JANUARI 2026 - ALLAH MENYATAKAN KESELAMATAN : Yesaya 42:1-9

KHOTBAH-MINGGU-11-JANUARI-2026-ALLAH-MENYATAKAN-KESELAMATAN-Yesaya-42-1-9

ALLAH MENYATAKAN KESELAMATAN

(Yesaya 42:1-9)


Pendahuluan

Di dunia yang serba keras ini, kita terbiasa melihat kekuatan ditunjukkan lewat suara yang tinggi, sikap yang tegas, bahkan kadang lewat paksaan. Dunia mengajarkan: kalau mau didengar, harus berteriak. Kalau mau menang, harus menjatuhkan yang lain.

Namun hari ini firman Tuhan justru membawa kita melihat sesuatu yang berbeda. Allah menyatakan keselamatan-Nya bukan dengan kegaduhan, bukan dengan kekerasan, melainkan dengan cara yang lembut, penuh kasih, dan setia. Yesaya 42 mengajak kita mengenal cara Allah bekerja. Bukan hanya untuk mengetahui siapa Allah, tetapi juga untuk memahami bagaimana keselamatan itu hadir dalam hidup kita yang nyata; di tengah lelah, luka, dan pergumulan sehari-hari.


Pembacaan Teks dan Penjelasan

Kita diajak membuka Yesaya 42 dengan sebuah seruan yang sangat tegas dari Allah sendiri: “Lihat!” Seruan ini bukan sekadar ajakan melihat dengan mata, tetapi memperhatikan dengan hati. Allah ingin umat-Nya berhenti sejenak dan menaruh perhatian penuh pada cara Dia bekerja menyatakan keselamatan. Lalu Allah memperkenalkan sosok yang menjadi pusat karya keselamatan itu: Hamba Tuhan. Ia adalah pribadi yang dipegang oleh Allah, dipilih oleh-Nya, dan berkenan di hati-Nya. Ini menegaskan bahwa keselamatan tidak dimulai dari kehendak manusia, melainkan dari inisiatif Allah sendiri. Bahkan Roh Tuhan ada atas Hamba ini, menunjukkan bahwa seluruh karya keselamatan digerakkan oleh kuasa ilahi, bukan kemampuan manusia.

Setelah itu, firman Tuhan membawa kita melihat cara Sang Hamba bekerja. Ia tidak berteriak, tidak menyaringkan suara, tidak memaksakan kehendak-Nya. Di tengah dunia yang gemar memamerkan kuasa dan pengaruh, Allah justru menyatakan keselamatan melalui ketenangan dan kelembutan. Ini bukan tanda kelemahan, melainkan bentuk kasih yang menghormati manusia dan memberi ruang bagi pemulihan. Dari sini, firman Tuhan masuk ke gambaran yang sangat menyentuh kehidupan manusia: buluh yang patah dan sumbu yang pudar. Gambaran ini melukiskan orang-orang yang hampir kehilangan daya, iman yang terluka, dan hidup yang nyaris padam. Namun justru kepada kondisi seperti inilah keselamatan Allah diarahkan. Sang Hamba tidak mematahkan yang sudah patah dan tidak memadamkan yang hampir padam. Allah tidak datang untuk menghakimi kelemahan manusia, tetapi untuk memulihkannya dengan kesabaran. Ini menegaskan sisi lain dari Sang Hamba: di balik kelembutannya, ada ketekunan yang teguh. Ia sendiri tidak akan patah atau padam sampai keadilan ditegakkan di bumi. Artinya, kasih Allah bukan kasih yang goyah. Keselamatan Allah berjalan perlahan, namun pasti. Ia tidak berhenti di tengah jalan, dan tidak menyerah meski prosesnya panjang.

Selanjutnya, Tuhan menyatakan tujuan besar dari pengutusan Sang Hamba itu. Ia dipanggil untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa, membuka mata yang buta, membebaskan yang terkurung, dan mengeluarkan mereka yang hidup dalam kegelapan. Keselamatan Allah bukan hanya menyentuh batin manusia, tetapi juga membebaskan hidup secara utuh—dari belenggu dosa, ketidakadilan, dan keputusasaan.

Akhirnya, bagian ini ditutup dengan penegasan yang sangat kuat tentang siapa Allah itu sendiri. Dialah Tuhan yang tidak membagi kemuliaan-Nya dengan siapa pun. Apa yang Ia janjikan, Ia genapi. Nubuat tentang keselamatan ini bukan harapan kosong, melainkan firman Allah yang pasti digenapi. Dalam terang Perjanjian Baru, gereja percaya bahwa seluruh nubuat ini menemukan penggenapannya di dalam Yesus Kristus. Dialah Hamba Tuhan yang datang dengan kelembutan, memulihkan yang rapuh, dan membawa keselamatan Allah ke dalam dunia nyata.


Aplikasi Hidup

Firman ini sangat dekat dengan realitas hidup kita. Banyak dari kita datang kepada Tuhan bukan dalam keadaan kuat, tetapi justru dalam kondisi lelah, kecewa, bahkan hampir menyerah.

Kabar baiknya jelas: Allah tidak menunggu kita pulih dulu baru mengasihi kita. Ia mendekat justru saat kita rapuh. Ia tidak memutuskan yang patah. Ia tidak memadamkan iman yang hampir padam. Dan setelah menerima keselamatan itu, kita pun dipanggil untuk hidup dengan cara yang sama. Dalam keluarga, pelayanan, dan masyarakat, kita dipanggil menghadirkan kasih yang memulihkan; bukan menghakimi, bukan menekan, melainkan menyertai dan menguatkan.


Penegasan

Yesaya 42 menegaskan bahwa Allah menyatakan keselamatan dengan cara-Nya sendiri: lembut, setia, dan penuh kasih. Keselamatan itu nyata dalam Yesus Kristus; Hamba Tuhan yang datang membawa terang ke dalam kegelapan hidup manusia. Ia masih bekerja hari ini, bahkan lewat cara-cara yang sunyi namun mengubah hidup.

Jika hari ini kita merasa lemah, firman ini mengingatkan: kita tidak ditinggalkan. Allah sedang menyatakan keselamatan-Nya, bahkan di titik hidup yang paling rapuh.


Doa

Tuhan Allah yang setia, kami bersyukur karena keselamatan-Mu dinyatakan dengan kasih dan kelembutan. Saat kami patah, Engkau tidak memutuskan kami. Saat iman kami redup, Engkau tidak memadamkannya. Kuatkan kami untuk percaya pada cara-Mu bekerja, dan pakailah hidup kami menjadi alat keselamatan bagi sesama. Di dalam nama Yesus Kristus, Hamba Tuhan yang menyelamatkan kami, kami berdoa. Amin.


Penulis C.Pdt. Letare G.U Siregar, M.Th


 


Posting Komentar

0 Komentar