Tuhan Mendengar Seruan Hamba-Nya — Nehemia 1:1–11 (Suatu Refleksi Iman di Masa kini)

Tuhan-Mendengar-Seruan-Hamba-Nya-Nehemia-1-1–11-Suatu-Reflesi-Iman-di-Masa-kini

I. Pendahuluan: Suara Hati di Tengah Krisis

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Kita hidup di masa yang tidak mudah. Banyak orang kehilangan arah karena tekanan ekonomi, krisis moral, rusaknya kepercayaan publik, bahkan krisis rohani di tengah gereja. Berita di media sosial setiap hari penuh dengan kekerasan, korupsi, dan perpecahan.

Di tengah suasana seperti itu, muncul pertanyaan: Apakah Tuhan masih mendengar seruan umat-Nya?
Apakah doa orang percaya masih punya arti di zaman digital ini?

Jawabannya: ya, Tuhan masih mendengar. Dan bukti itu kita lihat dalam kehidupan seorang tokoh bernama Nehemia.

II. Latar dan Kondisi Nehemia

Nehemia bukan pendeta, bukan nabi, bukan politisi. Ia hanyalah seorang juru minuman raja, pekerja istana yang tampak biasa, tetapi berhati luar biasa. Ia hidup di masa pemerintahan Persia, ketika bangsanya, Israel, telah hancur secara sosial, politik, dan moral.

Yerusalem kota suci mereka, telah porak poranda. Temboknya runtuh, pintunya terbakar.
Bisa kita bayangkan seperti apa rasanya mendengar kabar itu, sama seperti kita mendengar berita gereja terbakar, anak bangsa saling membenci, atau moral masyarakat jatuh.

Nehemia tidak menutup mata. Ia menangis, berduka, lalu berdoa. Ia tahu, hanya Tuhan yang sanggup memulihkan.

III. Tuhan Mendengar Seruan Hamba-Nya

1. Nehemia mendengar dan peduli (ayat 1–4)

Nehemia tidak berkata, “Itu bukan urusanku.”
Ia berpuasa dan berdoa. Ia tidak berdiam di zona nyaman.
Inilah pelajaran pertama bagi kita: 
Pemulihan bangsa dimulai dari hati yang peduli.

Di tengah masyarakat modern, banyak orang hanya peduli pada “notifikasi” di ponselnya, bukan tangisan di sekelilingnya. Ketika seseorang berbicara, justru lebih asik sendiri dengan gawai/ hp nya sendiri, seolah-olah sibuk sendiri. Tetapi hamba Tuhan sejati peka terhadap penderitaan umat.

2. Nehemia berdoa dengan hati yang hancur (ayat 5–7)

Ia mengaku dosa bangsanya dan dosanya sendiri.
Ia tidak menyalahkan orang lain, tidak menyalahkan pemerintah, tidak menyalahkan masa lalu. Ia mulai dari dirinya sendiri. 
Pertobatan pribadi menjadi pintu pertobatan bangsa.

Tuhan mendengar doa orang yang merendahkan diri, bukan yang merasa paling benar.

3. Nehemia bersandar pada janji Allah (ayat 8–10)

Nehemia mengingat Firman Tuhan kepada Musa.
Ia tidak berdoa dengan emosi, tapi dengan dasar janji.
Dalam masa modern ini, banyak doa kita kehilangan arah karena tidak berakar pada Firman. Tetapi Nehemia mengingatkan kita bahwa iman dan Firman berjalan seiring.

Doa yang diingat Tuhan adalah doa yang berdiri di atas janji-Nya.

4. Nehemia siap menjadi jawaban doanya (ayat 11)

Nehemia tidak berhenti di doa. Ia siap bertindak, menjadi alat Tuhan di tengah sistem politik Persia.
Ia tahu bahwa perubahan tidak datang dari keluhan, tapi dari keberanian untuk melangkah dengan iman.

Doa sejati selalu diikuti dengan kesiapan menjadi jawaban doa itu sendiri.

IV. Konteks Masa Kini: Panggilan bagi Gereja dan Bangsa

Saudara-saudara,
Nehemia hidup di tengah situasi bangsa yang rusak.
Kita pun hidup di zaman yang tidak jauh berbeda.
Lihatlah sekitar kita, kerusakan moral, politik uang, ketimpangan sosial, bahkan di gereja ada konflik dan kehilangan arah pelayanan.

Namun seperti Nehemia, kita dipanggil untuk tidak apatis.
Tuhan sedang mencari orang yang mau berdoa dan bertindak, bukan hanya berdebat dan mengeluh
.

Dalam konteks sosial:

Kita dipanggil menjadi pembawa harapan di tengah masyarakat yang kehilangan rasa percaya.

Dalam konteks budaya:

Kita hidup di era global, di mana nilai-nilai iman mulai digantikan oleh popularitas dan materi.
Kita dipanggil untuk tetap memegang prinsip Kristen, tanpa kehilangan kasih terhadap dunia.

Dalam konteks agama:

Banyak orang beragama, tapi sedikit yang benar-benar berdoa.
Nehemia mengingatkan: Doa yang tulus lebih berharga daripada ritual yang megah.

Dalam konteks politik:

Gereja tidak harus jadi alat politik, tetapi harus menjadi suara moral, pembela keadilan dan kebenaran.
Tuhan bisa memakai siapa saja bahkan juru minuman istana untuk mengubah bangsa.

V. Penutup: Tuhan Masih Mendengar

Saudara, ketika Nehemia berdoa, ia tidak langsung melihat hasilnya.
Namun doanya mengguncang istana Persia, membuka jalan bagi pemulihan Yerusalem.

Artinya, tidak ada doa yang sia-sia.
Mungkin hari ini engkau berdoa untuk keluarga, untuk gereja, atau untuk negeri ini dan belum ada perubahan.
Tapi jangan berhenti. Tuhan mendengar seruan hamba-Nya. Amen

Posting Komentar

0 Komentar