
I.
Pendahuluan: Suara Hati di Tengah Krisis
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan,
Kita hidup di masa yang tidak mudah. Banyak orang kehilangan arah karena
tekanan ekonomi, krisis moral, rusaknya kepercayaan publik, bahkan krisis
rohani di tengah gereja. Berita di media sosial setiap hari penuh dengan
kekerasan, korupsi, dan perpecahan.
Di tengah suasana seperti itu, muncul
pertanyaan: Apakah Tuhan masih mendengar seruan umat-Nya?
Apakah doa orang percaya masih punya arti di zaman digital ini?
Jawabannya: ya, Tuhan masih mendengar.
Dan bukti itu kita lihat dalam kehidupan seorang tokoh bernama Nehemia.
II. Latar
dan Kondisi Nehemia
Nehemia bukan pendeta, bukan nabi, bukan
politisi. Ia hanyalah seorang juru minuman raja, pekerja istana yang
tampak biasa, tetapi berhati luar biasa. Ia hidup di masa pemerintahan
Persia, ketika bangsanya, Israel, telah hancur secara sosial, politik, dan
moral.
Yerusalem kota suci mereka, telah porak
poranda. Temboknya runtuh, pintunya terbakar.
Bisa kita bayangkan seperti apa rasanya mendengar kabar itu, sama seperti kita
mendengar berita gereja terbakar, anak bangsa saling membenci, atau moral
masyarakat jatuh.
Nehemia tidak menutup mata. Ia menangis, berduka, lalu berdoa. Ia tahu, hanya Tuhan yang sanggup memulihkan.
III. Tuhan
Mendengar Seruan Hamba-Nya
1. Nehemia mendengar dan peduli (ayat 1–4)
Nehemia tidak berkata, “Itu bukan urusanku.”
Ia berpuasa dan berdoa. Ia tidak berdiam di zona nyaman.
Inilah pelajaran pertama bagi kita: Pemulihan bangsa dimulai
dari hati yang peduli.
Di tengah masyarakat modern, banyak orang
hanya peduli pada “notifikasi” di ponselnya, bukan tangisan di sekelilingnya. Ketika
seseorang berbicara, justru lebih asik sendiri dengan gawai/ hp nya sendiri,
seolah-olah sibuk sendiri. Tetapi hamba Tuhan sejati peka terhadap penderitaan
umat.
2. Nehemia berdoa dengan hati yang hancur
(ayat 5–7)
Ia mengaku dosa bangsanya dan dosanya sendiri.
Ia tidak menyalahkan orang lain, tidak menyalahkan pemerintah, tidak
menyalahkan masa lalu. Ia mulai dari dirinya sendiri. Pertobatan
pribadi menjadi pintu pertobatan bangsa.
Tuhan mendengar doa orang yang merendahkan diri, bukan yang merasa paling
benar.
3. Nehemia bersandar pada janji Allah (ayat
8–10)
Nehemia mengingat Firman Tuhan kepada Musa.
Ia tidak berdoa dengan emosi, tapi dengan dasar janji.
Dalam masa modern ini, banyak doa kita kehilangan arah karena tidak berakar
pada Firman. Tetapi Nehemia mengingatkan kita bahwa iman dan Firman berjalan
seiring.
Doa yang diingat Tuhan adalah doa yang berdiri di atas janji-Nya.
4. Nehemia siap menjadi jawaban doanya (ayat
11)
Nehemia tidak berhenti di doa. Ia siap
bertindak, menjadi alat Tuhan di tengah sistem politik Persia.
Ia tahu bahwa perubahan tidak datang dari keluhan, tapi dari keberanian untuk
melangkah dengan iman.
Doa sejati selalu diikuti dengan kesiapan menjadi jawaban doa itu sendiri.
IV. Konteks
Masa Kini: Panggilan bagi Gereja dan Bangsa
Saudara-saudara,
Nehemia hidup di tengah situasi bangsa yang rusak.
Kita pun hidup di zaman yang tidak jauh berbeda.
Lihatlah sekitar kita, kerusakan moral, politik uang, ketimpangan sosial,
bahkan di gereja ada konflik dan kehilangan arah pelayanan.
Namun seperti Nehemia, kita dipanggil untuk tidak
apatis.
Tuhan sedang mencari orang yang mau berdoa dan bertindak, bukan hanya berdebat
dan mengeluh.
Dalam
konteks sosial:
Kita dipanggil menjadi pembawa harapan
di tengah masyarakat yang kehilangan rasa percaya.
Dalam
konteks budaya:
Kita hidup di era global, di mana nilai-nilai
iman mulai digantikan oleh popularitas dan materi.
Kita dipanggil untuk tetap memegang prinsip Kristen, tanpa kehilangan
kasih terhadap dunia.
Dalam
konteks agama:
Banyak orang beragama, tapi sedikit yang
benar-benar berdoa.
Nehemia mengingatkan: Doa yang tulus lebih berharga daripada ritual yang
megah.
Dalam
konteks politik:
Gereja tidak harus jadi alat politik, tetapi
harus menjadi suara moral, pembela keadilan dan kebenaran.
Tuhan bisa memakai siapa saja bahkan juru minuman istana untuk mengubah
bangsa.
V. Penutup:
Tuhan Masih Mendengar
Saudara, ketika Nehemia berdoa, ia tidak
langsung melihat hasilnya.
Namun doanya mengguncang istana Persia, membuka jalan bagi pemulihan Yerusalem.
Artinya, tidak ada doa yang sia-sia.
Mungkin hari ini engkau berdoa untuk keluarga, untuk gereja, atau untuk negeri
ini dan belum ada perubahan.
Tapi jangan berhenti. Tuhan mendengar seruan hamba-Nya. Amen
0 Komentar