Pdt. DR. Burju Purba Ungkap Makna Liturgi HKI: Lebih dari Sekadar Tata Ibadah

 

Pendeta-DR-Burju-Purba-Ungkap-Makna-Liturgi-HKI-Lebih-dari-Sekadar-Tata-Ibadah
Keterangan Gambar: Ibadah Minggu di HKI Pos Pelayanan Cikarang (31/12/2023)
Seorang yang memimpin liturgi (Maragenda) dalam kebaktian Minggu adalah “pengantara” Allah dengan jemaat dan “Pengantara” jemaat dengan Allah. Mengapa? Karena dalam ibadah, Allahlah yang berfirman kepada jemaat dan jemaat yang menjawab. Keadaan atau peristiwa inilah yang dinyatakan dalam tata liturgi kebaktian gereja HKI. Untuk lebih jelasnya, marilah kita tinjau tata liturgi kebaktian minggu gereja HKI.

Penjelasan Umum 

Suatu tata liturgi kebaktian minggu terdiri dari beberapa unsur. Setiap unsur memiliki pengertian khusus secara teologis. Namun, pengertian khusus dari setiap unsur ini tidaklah menjadikan unsur-unsur itu lepas antara satu dengan yang lainnya, sehingga unsur yang satu dengan unsur yang lainnya menjadi satu kesatuan dan terbentuklah satu tata liturgi yang utuh. Ini mengharuskan setiap jemaat yang ambil bagian dalam kebaktian itu untuk senantiasa menghormati kekhidmatan kebaktian itu secara utuh, tanpa memilih-milih unsur mana dari tata liturgi kebaktian itu yang paling khidmat untuk diikuti. Jika ada unsur-unsur tertentu dari tata liturgi kebaktian itu yang paling khidmat dan paling menarik baginya, tidaklah berarti bahwa dia bebas bermain-main pada saat kebaktian sampai pada unsur yang kurang menarik itu baginya. Setiap orang yang mengikuti kebaktian minggu, dia terikat kepada setiap unsur yang ada dalam liturgi kebaktian itu.

Unsur-unsur liturgi dan susunannya dalam tata liturgi kebaktian minggu, tidaklah selalu sama betul dalam setiap gereja (Denominasi), walaupun ada persamaannya secara umum. Pemilihan unsur dan penempatannya dalam suatu tata liturgi kebaktian memiliki alasan-alasan teologis dan alasan-alasan praktis. Alasan-alasan teologis selalu didasarkan pada pengertian jemaat yang bersangkutan tentang “apa hakekat dan fungsi ibadah”, dan alasan-alasan praktis selalu didasarkan pada pertolongan terhadap jemaat supaya lebih merasakan kekhidmatan kebaktian itu. Sehubungan dengan alasan-alasan inilah, maka pengertian tata liturgi kebaktian minggu haruslah diajarkan kepada setiap warga jemaat, khususnya kepada setiap pelayan yang bertugas melayani kebaktian itu.


Unsur-unsur Tata Liturgi Gereja HKI dan Pengertiannya

Votum (Allah yang berfirman)

Gereja yang memulai tata liturgi kebaktian dengan Votum, seperti Gereja HKI adalah gereja yang mengikuti tata liturgi kebaktian gereja-gereja Gereformed. Gereja gereformed; mulai dengan votum, salam berkat, nyanyian pendahuluan, Dasa Firman, dsb.

Votum di gereja HKI dirumuskan sbb: “Dalam Nama Allah Bapak dan AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus Pencipta langit dan bumi”. Dalam votum ini terbertik amanat kuasa Allah yang Tritunggal. Segala kegiatan selanjutnya dalam ibadah itu berlangsung dalam namaNya. Oleh votum, pertemuan jemaat mendapat sifatnya yang khusus dan dibedakan dari pertemuan-pertemuan lainnya. Oleh votum, orang-orang yang datang dari segala tempat dan latar belakang yang berbeda-beda, berobah menjadi “Persekutuan Jemaat Kristus”. Disana tidak ada lagi perbedaan antara satu dengan yang lain.

Pada saat Votum dibacakan oleh Pemimpin Liturgi, seluruh jemaat diundang berdiri. Ini berarti, bahwa seluruh jemaat diundang bangkit berdiri menyambut Tuhan yang datang memimpin kebaktian itu, dan meninggalkan kehidupan lama mereka. Atas dasar ini, maka jemaat (kecuali yang sakit) tidak dapat menolak ajakan Pemimpin Liturgi untuk berdiri.

Salam

Di gereja HKI dan juga beberapa gereja di Indonesia, menggabungkan votum dan salam. Di gereja HKI, sesudah votum dibacakan, segera diikuti dengan ucapan dari Pemimpin Liturgi: “Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu (kita) sekalian”.

Salam ini bukanlah berkat, karena itu Pemimpin Liturgi tidak mengangkat tangan pada saat memberi salam. Salam adalah suatu harapan. Seorang yang memberi salam, mengharapkan sipenerima salam berada dalam suasana damai sejahtera pada waktu yang akan datang. Salam sehari-hari, hampir sama dengan fungsi salam dalam Tata Liturgi Kebaktian. Bedanya ialah: Anugerah dan Sejahtera itu diberikan atas Nama Allah Bapak, Anak dan Roh Kudus.

Salam harus dijawab. Salam tanpa jawaban bukanlah salam. Atas dasar inilah maka jemaat menjawab salam itu dengan mengatakan: “Ya Yesus Kristus Tuhan kami, lihatlah dan datanglah kepada kami yang bersekutu disini. Kami adalah umat gembalaanMu, berilah kasih karunia dan kehidupan kepada kami, Amin”. Dalam jawaban ini nampak “pengaminan” dari warga jemaat bahwa hanya Tuhan Allahlah sumber dari segala berkat. Dialah Gembala yang memberi kehidupan dan yang menghidupkan.

Bernyanyi (Jawaban jemaat)

Nyanyian adalah suatu ekspresi yang kita alami dan rasakan dalam batin kita. Pada waktu adanya “gejolak” emosi yang mendalam (emosi kegembiraan maupun kesedihan), manusia terdorong untuk mengungkapkan perasaannya melalui bunyi suaranya, yang melewati arti kata dan bahasanya. Bunyi-bunyi itu lambat laun diaturkan menjadi nada, dasar dan inti lagu-lagu dan melodi-melodi. Karena itu dapat dikatakan bahwa sejak semula, “bernyanyi” merupakan suatu bagian yang integral dalam semua ibadah dan upacara religius (keagamaan), termasuk dalam kegiatan ibadah umat Tuhan (Israel dan Gereja) kepada Tuhan Allah.

Bangsa Isarel sudah lama bernyanyi. Hal ini dapat kita lihat dari nyanyian Musa bersama dengan orang Israel yang dipimpinnya (Kel 15:1-18). Para peniup nafiri dan para penyanyi serentak memperdengarkan paduan suaranya untuk menyanyikan puji-pujian dan syukur kepada Tuhan (2 Taw 3:13). Demikian juga dalam Mzm 150 kita baca adanya suatu orkes yang lengkap.

Dalam kitab Injil disebutkan bahwa Yesus juga bernyanyi, bukan hanya waktu menghadiri upacara-upacara di Bait Allah, tetapi juga pada waktu mengadakan liturgi di rumah, seperti pada waktu Perjamuan yang terakhir. “Sesudah menyanyikan nyanyian pujian, pergilah Yesus bersama murid-muridNya ke Bukit Zaitun” (Mat 26:30).

Setelah agama Kristen dibebaskan oleh Konstantinus Agung (thn 325), mulailah nyanyian-nyanyian gereja ini berkembang. Kebudayaan-kebudayaan dari luar Israel pun juga sudah memasuki dan mempengaruhi musik dan nyanyian gereja. Pada akhir zaman pertengahan, kita saksikan suatu perkembangan baru dalam musik dan nyanyian gereja yang mengarah pada “polifoni” dengan mempergunakan Sopran, Alto, Tenor, Bariton dan Bass. 

Jadi, nyanyian adalah sangat penting dalam ibadah kepada Allah Yahweh sejak Israel dan yang kemudian diwarisi dan dikembangkan oleh orang Kristen. Dengan demikian juga dapat dikatakan bahwa peranan nyanyian dalam ibadah Kristen adalah sbb:

  • Nyanyian sebagai pujian bagi Tuhan (mzm 96:1-3; Ef 5:19)
  • Nyanyian sebagai ucapan syukur kepada Tuhan (Mam 89:2-6; 105:1-2; 108:4)
  • Nyanyian sebagai doa dan permohonan kepada Tuhan
  • Nyanyian sebagai ungkapan iman (Kol 3:16) 
  • Nyanyian sebagai pelayanan dan kesaksian akan Firman Tuhan.

Peranan nyanyian seperti disebutkan diatas adalah juga peranan nyanyian dalam tata liturgi kebaktian gereja HKI. Dengan demikian, maka nyanyian setelah votum dan salam ini tidaklah terpisahkan dari votum dan salam yang mendahuluinya.

Introitus (Allah yang berfirman)

Sesudah votum dan salam, ada unsur ketiga dalam tata liturgi kebaktian Minggu gereja HKI yang disebut “Introitus” (= pintu masuk). Ada tiga bahagian isi introitus dalam tata liturgi gereja HKI, yaitu:

1. Nats

Nats Alkitab yang dibacakan dalam introitus tata liturgi gereja HKI menyatakan sifat yang khusus dari kebaktian itu. Karena itu, maka nats Alkitab yang dibacakan harus selalu berhubungan dengan Kalender Gereja (bagian sejarah keselamatan) pada saat kebaktian itu (mis. Minggu Advent, Natal, Ephipanias). Nats ini menjadi pemberitaan dan kesaksian akan keselamatan yang dikerjakan oleh Tuhan Allah.

2. Doa

Setelah nats Alkitab dibacakan, diteruskan dengan doa. Isi doa ini adalah pengakuan terhadap apa yang dilakukan oleh Tuhan Allah dan permohonan agar iman kita senantiasa dikuatkan untuk hidup sesuai dengan keselamatan yang telah dikerjakan Allah di dalam kita. Hal ini makin diperjelas dengan ucapan Pimpinan Liturgi yang mengatakan:”Tuhan Allah menyertai kamu (kita) sekalian”, dan langsung diaminkan oleh jemaat dengan serentak mengatakan: “Amin”.

3. Nyanyian Pujian “Haleluya”

Setelah pemberitaan/kesaksian dan pengakuan keselamatan yang dilakukan oleh Tuhan Allah dalam sejarah keselamatan, serta permohonan agar Tuhan Allah senantiasa menguatkan iman dan menyertai jemaat untuk hidup dalam keselamatan itu, jemaat menyanyikan pujian bagi Tuhan dengan :”Haleluya,Haleluya, Haleluya” (Muliakan Tuhan). Luapan sukacitalah yang dikumandangkan melalui lagu pujian ini atas keselamatan yang dilakukan oleh Allah, atas kemauan Allah mendengarkan doa jemaat, dan atas penyertaan Tuhan Allah dalam setiap aspek kehidupan jemaat.

Pembacaan Hukum Taurat (Allah yang berfirman)

Pembacaan Hukum Taurat tidak dilakukan oleh semua Gereja (seperti; Gereja Methodist Indonesia, Gereja Lutheran di Australia). Alasannya ialah bahwa hukum taurat memang mengajarkan hal-hal yang baik, tetapi tidak memberikan kekuatan bagi kita untuk melakukannya. Karena itu, apabila hukum taurat dibacakan dalam kebaktian Minggu akan mendorong warga jemaat berputus asa, sebab tidak seorangpun yang mampu memenuhi tuntutannya.

Gereja yang tetap membacakan Hukum Taurat (termasuk HKI) adalah gereja yang menekankan arti dan makna hukum taurat itu sebagai pengasuh, pagar dalam hidup orang beriman. Sesuai dengan fungsinya, hukum taurat telah menunjuk dosa-dosa jemaat, dengan demikian jemaat meresponnya dengan doa (permohonan) pengampunan dosa dan sekaligus mendengar janji pengampunan untuk memastikan bahwa Tuhan adalah Maha Pengampun bagi orang yang mau menyesali dosanya. Dengan demikian, jemaat terbebas dari perasaan berdosa atau perasaan putus asa dan sekaligus menempatkannya pada perasaan sukacita di dalam Tuhan. Tapi perlu kita perhatikan, disini tidak ada bermaksud menekankan tuntutan hukum taurat itu lebih besar daripada pemberitaan anugerah Allah di dalam Yesus Kristus. Atas dasar inilah maka HKI saat ini telah sering mengganti pembacaan hukum taurat itu dengan pembacaan Injil atau Firman Tuhan pengganti hukum taurat.

Doa (Jawaban jemaat)

Setelah Allah berfirman melalui pembacaan hukum taurat atau pengganti hukum taurat, jemaat menjawab/meresponnya dengan doa memohon kekuatan dari Tuhan untuk melaksanakan hukum atau firmanNya. Dalam doa ini sangat jelas dinyatakan bahwa hanya Tuhan sendirilah yang memungkinkan jemaat dapat hidup sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah dalam hukum-hukumNya atau firmanNya.

Nyanyian (Lanjutan doa jemaat)

Nyanyian ini berupa janji akan kesungguhan kita untuk hidup sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh firman Allah dan sekaligus pengakuan akan kemurahan Allah mendengarkan dan mengabulkan doa kita.

Doa Pengakuan Dosa (Jemaat)

Pengakuan dosa adalah suatu unsur dalam tata liturgi kebaktian yang sangat penting. Apabila kita berhadapan dengan Tuhan, maka suatu hal yang sangat penting yang tidak dapat kita lupakan dalam hidup kita adalah memohon pengampunan dosa kita. Kita tidak boleh berjalan dalam hidup ini tanpa kemurahan Allah yang secara terus menerus mengampuni dosa kita.

Pengakuan dosa dalam kebaktian ini, memang pengakuan dosa yang umum. Pemimpin liturgi membacakan doa pengampunan dosa yang berlaku untuk semua jemaat tanpa menunjuk dosa-dosa dari masing-masing pribadi. Dalam kebaktian, saya tidak mengaku dosa pribadi saya saja, tetapi kedosaan yang saya punya bersama-sama dengan kedosaan jemaat yang lain. Karena itu, pengakuan dosa di dalam kebaktian tidak dapat menggantikan pengakuan dosa pribadi di hadapan Tuhan. Pengakuan dosa pribadi ini dapat dilakukan atau dihayati oleh masing-masing pribadi, karena pada saat hukum taurat dibacakan, masing-masing pribadi telah didorong untuk mengenal dosa pribadi dan mengakuinya di hadapan Tuhan.

Janji Pengampunan Dosa (Allah)

Doa Pengakuan Dosa segera diikuti pemberitaan janji pengampunan dosa dari Allah. Pemberitaan janji pengampunan dosa ini adalah jaminan dari Tuhan kita bahwa doa kita di dengar. Atas dasar jaminan ini, maka kita (jemaat) bersukacita dan lepas dari rasa putus asa. Kalau kita sudah mempercayai bahwa dosa kita telah diampuni, maka kita juga akan lebih bersemangat melawan dosa. Orang yang telah diampuni dosanya, akan berusaha untuk tidak kembali lagi dikuasai oleh dosa.

Nyanyian

Melalui nyanyian ini jemaat menyambut (mangolophon) janji pengampunan dosa itu dari Tuhan

Pembacaan Epistel (Allah)

Epistel berarti surat. Awalnya epistel ini sering dikhotbahkan, tujuannya agar natsitu makin jelas dimengerti oleh jemaat. Akan tetapi, memperhatikan warga jemaat yang tidak seluruhnya memiliki “kekuatan” untuk mendengarkan khotbah yang panjang (karena harus mendengarkan khorbah dari Evanggelium lagi), maka epistel hanya dibacakan oleh Pemimpin liturgi. Kemudian dilanjutkan dengan seruan:”Berbahagialah orang yang mendengarkan Firman Tuhan dan yang melaksanakannya”. Seruan ini berarti: bahwa kesempatan mendengarkan dan melaksanakan Firman Tuhan adalah anugerah yang melahirkan kebahagiaan; bahwa mendengarkan dan melaksanakan Firman Tuhan adalah satu adanya yang tidak boleh dipisahkan; bahwa mendengar dan melaksanakan Firman Tuhan bukanlah beban.

Bernyanyi (Jemaat menyambut atau mangolophon Firman Tuhan)

Pengakuan Iman Rasuli (Jemaat)

Gereja HKI menerima Pengakuan Iman Nicea, Natanacianum, Augsburg di samping Pengakuan Iman Rasuli. Akan tetapi Pengakuan Iman Rasuli inilah yang hampir selalu kita pergunakan. Apakah arti Pengakuan Iman itu? Dalam Pengakuan Iman, jemaat mengaku apa yang menjadi dasar, pegangan hidup dan tujuan setiap orang percaya. Dalam Pengakuan Percaya itu, jemaat mengaku Allah yang hidup dan benar. Allah Bapa yang menciptakan segala sesuatu, dan Allah Anak yang menjadi manusia, mati dan dikuburkan, bangkit dari antara orang mati untuk menyelamatkan manusia, naik ke sorga dan duduk di sebelah kanan Allah. Roh Kudus yang memanggil manusia beriman dan masuk ke dalam persekutuan orang kudus (gereja).

Selanjutnya, dalam pengakuan iman itu, jemaat mengakui kesatuannya dengan seluruh orang percaya di dunia ini. Atas dasar kepercayaan kebersamaan seluruh orang percaya di dunia ini, maka jemaat memiliki kesatuan dan ketabahan di dalam menghadapi masalah-masalah yang ada di dunia ini. Gereja atau warga jemaat HKI tidaklah sendirian di dunia ini, tetapi bersama-sama dengan seluruh orang percaya.

Nyanyian dan Mengumpulkan Persembahan

Disini digabungkan nyanyian dan persembahan sebelum mendengar khotbah. Apakah makna teologis dan praktis yang ada didalamnya?

a. Nyanyian: Nyanyian ini memiliki dua arti, yaitu:

  • Menyatakan rasa suka cita karena Tuhan akan “datang” melalui FirmanNya. Kedatangan Tuhan menjenguk umatNya senantiasa diartikan oleh setiap orang percaya sebagai kepedulian dan keaktifan Tuhan campur tangan dalam Alkitab perjalanan kehidupan umatNya.
  • Menyatakan rasa sukacita pada saat menyampaikan kurban persembahan. Saat menyampaikan kurban persembahan senantiasa di artikan oleh setiap orang Kristen sebagai sukacita yang luarbiasa.

b. Persembahan (sudah dibahas dalam Pembinaan sebelumnya)

Khotbah 

a. Nyanyian Jemaat: “FirmanMu Menjadi Terang” (Hangoluan do Hatam)

Nyanyian ini dimaksud untuk menyambut Firman Tuhan yang telah dibacakan, dan sekaligus persiapan Jemaat untuk mendengarkan apa yang mau dikatakan oleh Firman itu kepada kita dalam hidup kita sehari-hari melalui khotbah. Kesediaan Allah berfirman kepada kita melalui nats khotbah, kita yakini sebagai anugerah Allah yang memberi kehidupan kepada kita. Keyakinan ini, selain dari memberi sukacita kepada kita, juga memilihara kita untuk mendengarkan dan mengaminkan khotbah itu. Dengan demikian, godaan-godaan untuk bermain-main, atau kurang menghargai khotbah karena menegor dosa-dosa kita atau karena pengkhotbah kurang terampil menyampaikan khotbahnya, akan dapat kita kalahkan.

b.Nyanyia Jemaat: “Berkatilah FirmanMu” (Pasupasu HataMi)

Nyanyian ini adalah lanjutan dari nyanyian sebelum khotbah, “FirmanMu Menjadi Terang”. Setelah kita mengakui (melalui nyanyian sebelum mendengarkan khotbah), bahwa Friman Allah itu adalah hidup dan terang, maka sekarang kita menyanyikan lagi “Berkatilah FirmanMu”, setelah mendengarkan khotbah. Dengan nyanyian ini, kita memohon kepada Tuhan Allah, supaya kita tidak hanya menjadi pendengar Firman saja, tetapi sekaligus menjadi pelaku-pelaku Firman Allah.

Warta Jemaat (Tingting) dan Doa Syafaat

Pengumuman (tingting) ini adalah sarana komunikasi di dalam Jemaat. Sebab, melalui pengumuman inilah diberitakan keadaan-keadaan khusus warga jemaat, misalnya, sukacita atau dukacita; sakit, pelayanan khusus dsb; dan keadaan serta kegiatan-kegiatan Jemaat sebagai persekutuan. Dengan demikian, persekutuan Jemaat itu benar-benar dapat dirasakan oleh setiap warga jemaat. Sukacita atau dukacita setiap warga jemaat menjadi sukacita dan dukacita jemaat secara bersama, dan kegiatan pelayanan jemaat sebagai persekutuan, menjadi kegiatan pelayanan setiap warga jemaat secara pribadi. Warta Gereja (tingting) segera diikuti dengan doa syafaat untuk mendoakan keadaan warga jemaat, pelayanan dan rencana pelayanan jemaat.

Doa Bapa Kami

Dalam kegiatan kebaktian Minggu itu sudah banyak doa yang kita panjatkan kepada Tuhan. Semua jenis doa ini sangat dihargai dan didengar oleh Tuhan. Akan tetapi, masih ada doa yang tidak dirumuskan oleh gereja, dan tidak dirumuskan oleh pribadi-pribadi warga jemaat. Doa itu langsung dirumuskan oleh Tuhan Yesus sendiri, dan kita ucapkan secara bersama-sama menjelang Kebaktian Minggu berakhir, yaitu “Doa Bapa Kami”. Dalam Doa Bapa Kami ini telah mencakup semua hal atau aspek, jadi dapat kita katakan bahwa doa ini adalah kesimpulan kebaktian Minggu itu, baik doa yang dirumuskan dalam Agenda maupun doa yang disampaikan oleh warga jemaat secara pribadi.

Berkat

Penyampaian berkat Allah melalui hambaNya kepada jemaat, adalah unsur yang terakhir dari tata liturgi kebaktian Minggu di gereja HKI. Dengan berkat ini, dinyatakan bahwa Tuhan Allah benar-benar hadir dan memimpin kebaktian minggu itu dari permulaan sampai akhir. Kebaktian itu dibuka atas nama Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus; dan ditutup dengan berkat Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Rumusan berkat ini ada dua; yaitu rumusan berkat yang disampaikan oleh Allah kepada Harun (Bilangan 6:23-27) dan rumusan berkat yang disampaikan oleh Rasul Paulus (2 Korintus 13:13).

Amin, Amin, Amin

Inilah jawaban jemaat dengan cara menyanyikannya atas berkat yang diterimanya dari Tuhan. Pengertian “amin”, yaitu “sungguh,benar,syah,utuh”. Dari pengertian ini, maka ketika jemaat menyanyikannya, maka jemaat mau mengatakan: “Sungguh, benar, syah, utuh, Tuhan adalah Maha Mulia, Maha Kasih, Maha Kuasa; Sungguh, benar, syah, utuh, aku, jiwaku menerima berkatMu Tuhan”. #BP

Posting Komentar

0 Komentar